MANAJEMEN RESIKO

 

RISIKO ( RISK) adalah bentuk keadaan ketidakpastian tentang suatu keadaan yang akan terjadi di masa depan dengan keputusan yang diambil berdasarkan berbagai pertimbangan pada saat ini.

Manajemen Risiko adalah usaha yang secara rasional ditujukan untuk mengurangi kemungkinan terjadinya kerugian dari risiko yang dihadapi.

Manfaat Manajemen Risiko :

  1. Perusahaan memiliki ukuran kuat sebagai pijakan dalam mengambil setiap keputusan.
  2. Mampu memberikan arah bagi perusahaan dalam melihat pengaruh yang mungkin timbul baik jangka pendek maupun jangka panjang.
  3. Mendorong para manajer dalam mengambil keputusan untuk selalu menghindari risiko dan menghindari dari pengaruh terjadinya kerugian khususnya kerugian finansial.
  4. Memungkinan perusahaan memperoleh risiko kerugian yang minimum.
  5. Dengan adanya konsep manjemen risiko yang dirancang secara detail maka perusahaan telah membangun arah dan mekanisme secara berkelanjutan.

 

Tahapan Manajemen Risiko :

  1. Identifikasi Risiko.
  2. Mengidentifikasi bentuk-bentuk risiko.
  3. Menempatkan ukuran-ukuran risiko.
  4.  Menempatkan alternatif.
  5. Menganalisis setiap alternatif.
  6. Memutuskan satu alternatif.
  7. Melaksanakan alternatif yang dipilih.
  8. Mengontrol alternatif terpilih.
  9. Mengevaluasi jalannya alternatif yang dipilih.

Jenis-jenis Risiko :

  1. 1.      Speculative Risk

Adalah risiko yang mengandung dua kemungkinan yaitu kemungkinan yang menguntungkan atau kemungkinan yang merugikan.

Misal : Judi, pembelian saham, pembelian valas.

  1. 2.      Pure Risk

Adalah risiko yang hanya mengandung satu kemungkinan, yaitu kemungkinan rugi saja.

Misal : bencana alam, resesi ekonomi.

 

Sumber Risiko :

  • Risiko Sosial.
  • Risiko Fisik.
  • Risiko Ekonomi.

RISIKO KREDIT

Merupakan bentik ketidakmampuan suatu perusahaan, institusi, lembaga maupun pribadi dalam menyelesaikan kewajiban-kewajibannya secara tepat waktu baik pada saat jatuh tempo dan itu semua sesuai dengan aturan dan kesepakatan yang berlaku.

 

Risiko kredit dari perspektif perbankan adalah risiko kerugian yang diderita bank, terkait dengan kemungkinan bahwa pada saat jatuh tempo, counterparty-nya gagal memenuhi kewajibannya kepada bank.

 

Keputusan menyalurkan kredit ke berbagai sektor bisnis tidak selalu terjadi sesuai seperti yang diharapkan, karena ada berbagai bentuk risiko yang akan dialami baik risiko yang bersifat jangka pendek maupun jangka panjang.

 

Risiko yang bersifat jangka pendek ( short term risk ) adalah risiko yang disebabkan karena ketidakmampuan suatu perusahaan memnuhi dan menyelesaikan kewajibannya yang bersifat jangka pendek terutama kewajiban likuiditas.

 

Risiko yang bersifat jangka panjang ( Long term risk )

Ketidakmampuan perusahaan menyelesaikan berbagai kewajibannya yang bersifat jangka panjang, seperti kegagalan untuk menyelesaikan utang perusahaan yang bersifat jangka panjang dan juga kemampuan untuk menyelesaikan proyek hingga tuntas.

 

CREDIT RISK MANAGEMENT ( CRM)

  • Tanggung Jawab :
  1. Mengendalikan risiko kredit.
  2. Mengelola dan menyelesaikan kredit yang bermasalah.
  3. Menetapkan suatu sistem ukuran penilaian serta alat analisi yang bisa atau layak digunakan.

 

RELATIONSHIP MANAGEMENT

  • Tanggung Jawab :
  1. Pada saat menemukan adanya kredit yang bermasalah maka memindahkan pengelolaannya ke bagian CRM untuk diselesaikan.
  2. Berfungsi dalam mempertanggungjawabkan kelanjutan bisnis/ usaha perbankan.
  3. Berkoordinasi dengan pihak CRM dalam memutuskan berbagai persoalan kredit.

 

Komite Kredit

Tugasnya :

  1. Meneliti dan menilai permohonan kredit baru yang berjumlah besar.
  2. Meneliti dan menilai permohonan perpanjangan kredit serta alasannya.
  3. Meneliti dan menilai semua kredit yang mengalami kemacetan untuk mengetahui dan menentukan penyebabnya.
  4. Meneliti apakah semua pemberian kredit telah sesuai dengan kebijakan pengkreditan bank ybs.
  5. Memeriksa kelengkapan dokumen-dokumen kredit.
  6. Memeriksa konsistensi perlakuan terhadap permohonan kredit.

 

Perjanjian Kredit ( Agreement)

Menurut pasal 1313 KUH Perdata :

Perjanjian ( Agreement ) adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih.

Kredit adalah penyediaan uang atau tagihan-tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga.

Perjanjian Kredit adalah suatu ikatan diantara kedua belah pihak yang disetujui dan ditandatangani dimana itu selanjutnya menjadi hukum bagi kedua belah pihak dengan menyebutkan ketentuan-ketentuan yang jelas mencakup penjelasan hak dan kewajiban kreditur dan debitur seperti jangka waktu, tingkat bunga, agunan dan sangsi-sangsi.

 

Resiko kredit bagi investor :

 

Surplus Finansial (Investor) — > Bank < — Defisit Finansial (Debitur)

 

Investor akan mengalami keterlambatan penerimaan keuntungan dalam bentuk bunga (Capital gain) karena perbankan sedang mengalami kesulitan keuangan.

Bagi pemegang obligasi permasalahan menjadi lebih besar pada saat emiten sudah berada dalam kondisi bangkrut.

Keterlambatan penerimaan keuntungan menyebabkan permasalahan dengan pihak eksternal seperti jika pihak pemegang obligasi dan deposito melakukan pembelian secara utang.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

RISIKO PASAR

Definisi Risiko Pasar

Risiko pasar merupakan kondisi yang dialami oleh suatu perusahaan yang disebabkan oleh perubahan kondisi dan situasi pasar di luar dari kendali perusahaan.

Risiko pasar sering disebut juga Risiko menyeluruh, karena sifat umumnya adalah bersifat menyeluruh dan dialami oleh seluruh perusahaan.

 

Bentuk Risiko Pasar

  1. 1.      General market risk (Risiko pasar secara umum ) :

Risiko ini dialami oleh seluruh perusahaan yang disebabkan oleh suatu kebijakan yang dilakukan oleh lembaga terkait yang mana kebijakan tersebut mampu memberi pengaruh bagi seluruh sektor bisnis.

  1. 2.      Specific Market Risk (Risiko pasar secara spesifik/Khusus)

Adalah suatu bentuk risiko yang hanya dialami secara khusus pada sektor atau sebagian bisnis saja tanpa bersifat menyeluruh.

 

Kategori yang masuk general market risk

  1. 1.      Foreign exchange risk (FER) (Resiko Valuta Asing)

Secara umum dalam ilmu keuangan dikenal dua bentuk pasar yaitu pasar modal (capital market) dan pasar uang (money market).

Foreign exchange risk merupakan bagian dari pasar uang.

Foreign exchange (valas) ini berangkat dari diterapkannya sistem floating exchange rate system pada tahin 1970an.

 

  • Pada pasar valas ini dapat dikategorikan dua tipe mata uang:
  1. 1.      Hard Currencies (mata uang keras)

Mencakup mata uang yang berasal dari negara-negara yang memiliki tingkat kestabilan moneter tinggi, atau negara maju secara ekonomi dan sering sebagai ukuran dalam mengkonversikan dengan mata uang negaranya. Seperti dollar amerika, yen jepang dan uero eropa.

  1. 2.      Soft Currencies ( Mata uang lembut)

Adalah jenis mata uang yang diterbitkan oleh suatu negara namun jarang dipakai sebagai standar acuan dalam transaksi bisnis internasional, dengan alasan dianggap belum memiliki nilai kekayaan.

  • Pasar keuangan sangat bebas dari berbagai intervens, karena :
  1. Berbagai pihak mudah mengakses seluruh data dan informasi tentang keuangan dan non keuangan.
  2. Berbagai investor dari seluruh dunia ikut bermain valas.
  3. Semua yang terlibat didalamnya tidak pernah tau dimana titik keseimbangannya.
  4. Setiap pihak memiliki data dan informasi untuk memprediksi apa yang terjadi kemudian.

 

 

2. Interest Rate Risk

  Risiko suku bunga adalah risiko yang dialami akibat dari perubahan suku bunga yang terjadi di pasaran yang mampu memberi pengaruh pada perusahaan.

  1. 3.    Commodity Position Risk (Resiko perubahan nilai komoditi)

Adalah situasi dan kondisi dimana terjadinya kerugian akibat perubahan harga barang komoditi di pasar yang disebabkan oleh faktor-faktor tertentu, dimana kondisi ini semakin parah saat barang komoditi tersebut telah terikat kontrak dalam suatu kontrak perjanjian serta informasi tersebut telah sampai ke pasar.

  1. 4.      Equity Position Risk ( Risiko perubahan Kekayaan)

Adalah suatu kondisi dimana kekayaan perusahaan mengalami perubahan dari biasanya sehingga perubahan tersebut memberi dampak pada keuntungan dan kerugian perusahaan.

  1. 5.      Political Risk

Stabilitas politik suatu negara sangat penting bagi pembangunan negara tersebut.

Untuk menciptakan suatu stabilitas politik yang baik adalah dengan cara membangun usaha yang sinergi antara masyarakat, pemerintah dan dunia usaha.

 

Hubungan FER dengan Perbankan

Ada beberapa faktor yang menyebabkan perbankan mengalami FER:

a)      Masih lemahnya independensi perbankan dalam permasalahan-permasalahan FER baik secara finansial dan non finansial.

b)      Lemahnya perangkat dan aturan perbankan dalam konsep risk management banking.

c)      Masih saja terjadi pemberian kredit dalam bentuk mata uang asing tapi kurang memiliki dasar analisis yang kaut.

d)     Penerimaan deposito dalam mata uang asing.

e)      Masih ada saja perlakuan khusus pada nasabah tertentu.

 

Faktor pengaruh mempengaruhi gejolak harga di pasar :

  1. Faktor fundamental ekonomi.
  2. Adanya peristiwa besar ekonomi maupun politik.
  3. Campur tangan pemangku kebijakan.
  4. Perimbangan kekuatan permintaan dan penawaran.
  5. Likuiditas pasar.

 

 

 

RISIKO SUKU BUNGA

Risiko suku bunga adalah risiko yang dialami akibat perubahan suku bunga yang terjadi di pasaran yang mampu memberi pengaruh pada perusahaan.

 

Faktor penyebab perubahan suku bunga domestik

Ada 3 faktor yang mempengaruhi suku bunga domestik suatu negara :

  1. Kondisi ekonomi global.
  2. Stabilitas ekonomi dalam negeri.
  3. Stabilitas sosial dan politik dalam dan luar negeri.

 

Resiko perubahan suku bunga dan permintaan uang :

  • Jika suku bunga , maka publik akan membelanjakan dananya untuk membeli aset yang menguntungkan.
  • Jika suku bunga turun, publik akan mengambil dananya di bank dan diinvestasikan untuk usaha.
  • Jika suku bunga naik maka publik cenderung menyimpan uangnya di bank karena aman.
  • Dari segi pemerintah menaikkan suku bunga kredit adalah sebagai antisipasi kredit macet.

Resiko Carry Trade

Resiko Carry Trade adalah bentuk perilaku investor dalam melakukan investasi dengan cara meminjam dana dari suatu negara yang memiliki tingkat suku bunga rendah dan selanjutnya membawa dana tersebut untuk ditanamkan pada negara yang memiliki tingkat suku bunga tinggi.

Jika suku bunga negara tujuan itu kembali normal/rendah, maka dana ditarik kembali.

 

Manajemen Risiko pada suku bunga obligasi:

  • Jika kondisi suku bunga obligasi stabil, masyarakat cenderung memilih obligasi.
  • Penerimaan bunganya tetap.
  • Pemilik obligasi biasanya yang memiliki uang lebih dan menginginkan keamanan berinvestasi.

 

Dampak Perusahaan suku bunga bagi perusahaan :

  • Perubahan suku bunga bisa menyebakan perusahaan menghadapi dua tipe risiko yaitu:
  • Risiko perubahan pendapatan : pendapatan bersih ( hasil investasi dikurangi biaya) berubah yaitu berkurang dari yang diharapkan.
  • Risiko perubahan nilai pasar berubah karena perubahan tingkat bunga, yaitu berubah karena lebih kecil (turun nilainya).

Risiko pada suku bunga dan saham :

  • Pada saat suku bunga mengalami kenaikan dan harga saham di pasar mengalami penurunan, maka investor cenderung memindahkan dananya dari saham ke deposito.
  • Pada saat kondisi pasar saham sedang menghangat, maka akan terjadi kebalikan dari hal diatas, dengan alasan keuntungan bermain saham lebih tinggi.
  • Investor adalah mereka yang memiliki karakteristik penghindar risiko dan menyukai keuntungan yang berkelanjutan.

 

Suku bunga dan jangka waktu obligasi

  • Semakin lama jangka waktu obligasi, semakin tinggi bunganya.
  • Konsep nilai waktu uang.
  • Adanya inflasi.

RISIKO PASAR (Market Risk)

Definisi Risiko Pasar

            Risiko pasar merupakan kondisi yang dialami oleh suatu perusahaan yang disebabkan oleh perubahan kondisi dan situasi pasar di luar dari kendali perusahaan.

Risiko pasar sering disebut juga Risiko menyeluruh, karena sifat umumnya adalah bersifat menyeluruh dan dialami oleh seluruh perusahaan.

Pengertian Risiko pasar adalah kerugian pada posisi neraca dan rekening administratif termasuk transaksi derivatif akibat perubahan keseluruhan pada kondisi pasar. Risiko ini dapat bersumber dari trading-book maupun banking book bank.

Risiko pasar dari trading book (Traded market risk) adalah risiko dari suatu kerugian nilai investasi akibat aktivitas trading (melakukan pembelian dan penjualan instrumen keuangan secara terus menerus) di pasar dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan. Hal ini timbul sebagai akibat dari tindakan bank yang secara sengaja  membuat suatu posisi yang berisiko dengan harapan untuk mendapatkan keuntungan dari posisi risiko yang telah diambilnya. (high risk high return).

Berbeda dengan Traded market risk,  risiko pada banking book merupakan konsekwensi alamiah akibat sifat bisnis bank yang dilakukan dengan nasabahnya. Umumnya, bank mempunyai struktur dana yang sifatnya jangka pendek / short funding karena kredit yang diberikan umumnya berjangka waktu lebih lama dari simpanan dana nasabah.

 

Bentuk Risiko Pasar

  1. 3.      General market risk (Risiko pasar secara umum ) :

Risiko ini dialami oleh seluruh perusahaan yang disebabkan oleh suatu kebijakan yang dilakukan oleh lembaga terkait yang mana kebijakan tersebut mampu memberi pengaruh bagi seluruh sektor bisnis.

  1. 4.      Specific Market Risk (Risiko pasar secara spesifik/Khusus)

Adalah suatu bentuk risiko yang hanya dialami secara khusus pada sektor atau sebagian bisnis saja tanpa bersifat menyeluruh.

 

Kategori yang masuk general market risk :

  1. 2.      Foreign exchange risk (FER) (Resiko Valuta Asing)

Secara umum dalam ilmu keuangan dikenal dua bentuk pasar yaitu pasar modal (capital market) dan pasar uang (money market).

Foreign exchange risk merupakan bagian dari pasar uang.

Foreign exchange (valas) ini berangkat dari diterapkannya sistem floating exchange rate system pada tahin 1970an.

 

  • Pada pasar valas ini dapat dikategorikan dua tipe mata uang:
  1. 6.      Hard Currencies (mata uang keras)

Mencakup mata uang yang berasal dari negara-negara yang memiliki tingkat kestabilan moneter tinggi, atau negara maju secara ekonomi dan sering sebagai ukuran dalam mengkonversikan dengan mata uang negaranya. Seperti dollar amerika, yen jepang dan uero eropa.

  1. 7.      Soft Currencies ( Mata uang lembut)

Adalah jenis mata uang yang diterbitkan oleh suatu negara namun jarang dipakai sebagai standar acuan dalam transaksi bisnis internasional, dengan alasan dianggap belum memiliki nilai kekayaan.

  • Pasar keuangan sangat bebas dari berbagai intervens, karena :
  1. Berbagai pihak mudah mengakses seluruh data dan informasi tentang keuangan dan non keuangan.
  2. Berbagai investor dari seluruh dunia ikut bermain valas.
  3. Semua yang terlibat didalamnya tidak pernah tau dimana titik keseimbangannya.
  4. Setiap pihak memiliki data dan informasi untuk memprediksi apa yang terjadi kemudian.

 

2. Interest Rate Risk

  Risiko suku bunga adalah risiko yang dialami akibat dari perubahan suku bunga yang terjadi di pasaran yang mampu memberi pengaruh pada perusahaan.

 

  1. 8.    Commodity Position Risk (Resiko perubahan nilai komoditi)

Adalah situasi dan kondisi dimana terjadinya kerugian akibat perubahan harga barang komoditi di pasar yang disebabkan oleh faktor-faktor tertentu, dimana kondisi ini semakin parah saat barang komoditi tersebut telah terikat kontrak dalam suatu kontrak perjanjian serta informasi tersebut telah sampai ke pasar.

 

  1. 9.      Equity Position Risk ( Risiko perubahan Kekayaan)

Adalah suatu kondisi dimana kekayaan perusahaan mengalami perubahan dari biasanya sehingga perubahan tersebut memberi dampak pada keuntungan dan kerugian perusahaan.

 

  1. 10.  Political Risk

Stabilitas politik suatu negara sangat penting bagi pembangunan negara tersebut.

Untuk menciptakan suatu stabilitas politik yang baik adalah dengan cara membangun usaha yang sinergi antara masyarakat, pemerintah dan dunia usaha.

 

Hubungan FER dengan Perbankan

Ada beberapa faktor yang menyebabkan perbankan mengalami FER:

f)       Masih lemahnya independensi perbankan dalam permasalahan-permasalahan FER baik secara finansial dan non finansial.

g)      Lemahnya perangkat dan aturan perbankan dalam konsep risk management banking.

h)      Masih saja terjadi pemberian kredit dalam bentuk mata uang asing tapi kurang memiliki dasar analisis yang kaut.

i)        Penerimaan deposito dalam mata uang asing.

j)        Masih ada saja perlakuan khusus pada nasabah tertentu.

 

Faktor pengaruh mempengaruhi gejolak harga di pasar :

  1. Faktor fundamental ekonomi.
  2. Adanya peristiwa besar ekonomi maupun politik.
  3. Campur tangan pemangku kebijakan.
  4. Perimbangan kekuatan permintaan dan penawaran.
  5. Likuiditas pasar.

Risiko pasar terdiri dari empat jenis yaitu :

Risiko Suku Bunga – Risiko kerugian pada posisi keuangan (neraca dan rekening administratif) karena perubahan suku bunga. Risiko Suku Bunga pada Banking Book merupakan bentuk risiko pasar paling dominan di perbankan Indonesia yang meliputi repricing risk, yield curve risk, basis risk, options risk. Selain banking book, Bank wajib pula mengelola risiko harga yang disebabkan oleh eksposur trading book (tanpa memandang jenis risiko) karena unrealized Mark to Market (MTM) gain/loss berpengaruh secara langsung pada pendapatan dan atau regulatory capital.

Risiko Nilai Tukar – Risiko kerugian pada posisi keuangan (neraca dan rekening administratif) akibat perubahan nilai tukar valuta asing, termasuk perubahan harga emas dimana.

Risiko Ekuitas – Risiko kerugian pada posisi keuangan (neraca dan rekening administratif) akibat perubahan nilai ekuitas, dan mencakup seluruh posisi ekuitas pada kategori AFS (available for sale).

Risiko Komoditas – Risiko kerugian pada posisi keuangan (neraca dan rekening administratif) akibat perubahan nilai komoditas. Risiko translasi nilai tukar atas seluruh posisi valas (aset dan kewajiban) pada neraca, baik trading maupun banking book

 

 

 

Berikut ini disajikan diagram penilaian risiko pasar sebagai berikut :

 

Sebagaimana mana risiko kredit, penilaian risiko pasar juga dilakukan berdasarkan dua komponen yaitu risiko pasar inherent dan kualitas sistem pengendalian (RCS – Risk Control System) yang menghasilkan net risk atau risiko komposit.

Penilaian risiko pasar inherent terdiri dua faktor utama yaitu faktor kuantitatif dan kualitatif. Berikut ini contoh parameter penilaian risiko pasar inheren :

Indikator Kualitatif :

 

 

 

Faktor Kualitatif :

Karakteristik risiko pasar :

-          Jenis aktivitas trading, proprietary trading, market making, brokering

-          Jenis instrumen trading : fixed income, derivatif, valas

-          Nasabah utama : perusahaan besar, bank, dana pensiun, individual

Trend :

-          Pertumbuhan aset yang diperdagangkan

-          Pertumbuhan instrumen derivatif

-          Pertumbuhan aset jangka panjang dengan suku bunga tetap.

Untuk penilaian kualitas penerapan manajemen risiko atau Risk Control System, tetap berpedoman kepada empat prinsip utama sabagaimana dalam risiko kredit. Secara konkret hasil penilaian risiko pasar digambarkan sebagai berikut :

 

Risiko pasar didefinisikan sebagai risiko kerugian pada posisi neraca dan rekening administratif yang diakibatkan oleh perubahan / pergerakan variabel pasar al. tingkat suku bunga, kurs valuta asing, saham dan komoditi.

Exposure kerugian akibat risiko harga pasar dapat disebabkan oleh:

  • Risiko pasar dari trading book yang timbul akibat bank aktif dalam kegiatan trading transaksi keuangan seperti obligasi yang nilainya dipengaruhi oleh perubahan harga pasar seperti suku bunga.
  • Risiko Suku bunga dari banking book dimana bank mempunyai terekspos risiko fluktuasi suku bunga akibat struktur bisnis bank dalam aktivitas seperti deposito dan pinjaman yang diberikan.

Trading book

Traded market risk (risiko pasar dari trading book) adalah risiko dari suatu kerugian nilai investasi akibat aktivitas trading (melakukan pembelian dan penjualan instrumen keuangan secara terus menerus) di pasar dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan.

Traded market risk muncul sebagai akibat dari tindakan bank yang secara sengaja  membuat suatu posisi yang berisiko dengan harapan untuk mendapatkan keuntungan dari posisi risiko yang telah diambilnya. (high risk high return)

Risiko suku bunga Banking Book

Berbeda dengan Traded market risk,  risiko pada banking book merupakan konsekwensi alamiah akibat sifat bisnis bank yang dilakukan dengan nasabahnya. Umumnya, bank mempunyai struktur dana yang sifatnya jangka pendek / short funding karena kredit yang diberikan umumnya berjangka waktu lebih lama dari simpanan dana nasabah.

Untuk menghindari hal-hal di luar yang diprediksi, diperlukan penetapan tingkat bunga yang matched antara suku bunga pinjaman dan suku bunga simpanan (proses ini disebut sebagai hedging), untuk melindungi nilai dari simpanan dan pinjaman.

Terdapat beberapa cara bank dapat melakukan hedging, al. merubah suku bunga pinjaman berdasarkan tingkat diskonto bank sentral atau menetapkan suku bunga simpanan yang selaras dengan suku bunga pinjaman (selama periode pinjaman).

Amendment Risiko Pasar

Sebagai respon atas kritik kurang sensitifnya Basel I terhadap risiko, bulan Januari 1996  Komite Basel mempublikasikan  “Amendment to the Capital Accord to incorporate Market Risks” bulan Januari 1996 yang dikenal dengan sebutan the Market Risk Amendment.

The Market Risk Amendment merupakan finasilisasi dari proses yang telah dimulai sejak the Committee mengeluarkan publikasi “The Supervisory Treatment of Market Risks”.

Penggunaan model internal yang telah dilakukan oleh beberapa bank internasional mendorong Basel Committee pada tahun 1994 untuk menerima penggunaan model internal, yang disebut metode Value at Risk (VaR). Metode VaR mengukur perkiraan besarnya kerugian maksimum dari portofolio bank akibat risiko pasar dalam waktu tertentu (holding period / VAR Horizon) dan dengan tingkat kepercayaan tertentu (confidence level).

Dengan VAR, laporan risiko bank mungkin akan disajikan sbb : “Portofolio trading mempunyai DVaR sebesar USD 15m dengan tingkat keyakinan sebesar 95 %”.

Confidence level merepresentasikan tingkat kemungkinan terjadinya kerugian di atas nilai 95% DVaR adalah 5%. Dengan ungkapan yang sederhana DVaR (Daily VAR) adalah “Dalam periode satu hari kerja terdapat kemungkinan sebesar 5 % kerugian dari portofolio melebihi USD 15m.

Namun demikian, nilai VaR tidaklah memberikan estimasi seberapa besar kerugian aktual yang dapat terjadi di atas nilai VaR tersebut, yang dalam contoh di atas tidak terdapat indikasi seberapa besar kerugian melebihi USD 15m dapat terjadi. Walaupun probabilitas ini kelihatannya kecil, bila asumsikan bahwa hari kerja dalam satu tahun adalah 240 hari, dapat diartikan bahwa dalam satu tahun diperkirakan ada 12 hari (240 x 5%) dimana kerugian portofolio dapat melebihi USD 15m.

Market Risk Amendment, yang memperkenankan penggunaan Value at Risk (VAR) model, merupakan regulasi pertama yang berbasis risiko.

Sifat Dasar Risiko Pasar (The Nature of Market Risk)

Risiko pasar terdiri dari:

  1. Risiko khusus (specific risk) adalah risiko yang timbul dari pergerakan harga suatu surat berharga karena faktor keamanan atau faktor penerbitnya. Sebagai contoh penurunan harga obligasi karena ‘credit rating’ dari penerbit obligasi mengalami penurunan. Informasi ini akan secara khusus berpengaruh terhadap penerbit obligasi dan bukan mempengaruhi harga obligasi secara umum.
  2. Risiko pasar umum (general market risk) adalah risiko yang timbul dari pergerakan harga-harga instrumen keuangan secara umum di pasar. Contohnya, kebijakan penurunan suku bunga oleh pemerintah menyebabkan penurunan suku bunga di pasar sehingga mempengaruhi harga dari seluruh instrumen keuangan yang terkait dengan pergerakan suku bunga.  Risiko Pasar Umum (General market risk) dikelompokkan menjadi 4 jenis, yaitu : Risiko suku bunga, Risiko posisi ekuit, Risiko nilai tukar dan Risiko komoditas.

 

 

Kesimpulan

Risiko pasar adalah kerugian pada posisi neraca dan rekening administratif termasuk transaksi derivatif akibat perubahan keseluruhan pada kondisi pasar. Risiko ini dapat bersumber dari trading-book maupun banking book bank.

Risiko pasar didefinisikan sebagai risiko kerugian pada posisi neraca dan rekening administratif yang diakibatkan oleh perubahan / pergerakan variabel pasar al. tingkat suku bunga, kurs valuta asing, saham dan komoditi.

kebijakan penurunan suku bunga oleh pemerintah menyebabkan penurunan suku bunga di pasar sehingga mempengaruhi harga dari seluruh instrumen keuangan yang terkait dengan pergerakan suku bunga.  Risiko Pasar Umum (General market risk) dikelompokkan menjadi 4 jenis, yaitu : Risiko suku bunga, Risiko posisi ekuit, Risiko nilai tukar dan Risiko komoditas.

 

Sumber :

  1. Coyle, B. Measuring Credit Risk. United Kingdom: CIB Publishing, 2000.
  2. Fisher, S. “Risk Management in Top Priority in Bank Restructuring“. Dikutip dari naskah presentasi tentang “Building World Class Risk Management.Capabilities in Indonesia: Overview Risk Management.” Jakarta: The Boston Consulting Group, 2001.

 

  1. BankirNews.Com
  2. ArtikelEkonomi.Com

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PENGENDALIAN DAN PENGELOLAAN

RISIKO SUKU BUNGA

 

PENGENDALIAN DAN PENGELOLAAN

RISIKO SUKU BUNGA

Dalam rangka mengantisipasi terjadinya risiko suku bunga, upaya-upaya yang dilakukan antara lain mengelompokkan aktiva dan pasiva berdasarkan tingkat kepekaannya dan menyusun perkiraan tingkat suku bunga melalui berbagai metode sehingga didapat perkiraan yang lebih baik. Selain itu juga tanggap dalam menghadapi perubahan yang potensial akan merugikan bank.

RISIKO SUKU BUNGA

alam berinvestasi, investor memiliki tujuan untuk memaksimalkan returnnya tanpa melupakan faktor risiko investor yang harus dihadapinya. Return merupakan salah satu faktor yang memotivasi investor berinvestasi dan juga merupakan imbalan atas keberanian investor menanggung risiko atas investasi yang dilakukannya. Sedangkan risiko merupakan kemungkinan perbedaan antara return yang akan diterima dengan return yang diharapkan. Semakin besar kemungkinan perbedaannya, maka semakin besar pula risiko investasi tersebut. Terdapat beberapa sumber risiko yang bisa mempengaruhi besarnya risiko suatu investasi, diantaranya adalah :
1. Risiko suku bunga
Perubahan suku bunga bisa mempengaruhi variabilitas return suatu investasi. Perubahan suku bunga akan mempengaruhi harga saham secara terbalik, yang berarti jika suku bunga meningkat, maka harga saham akan turun. Demikian pula sebaliknya, apabila suku bunga menurun, maka harga saham akan meningkat.

2. Risiko pasar
Yang dimaksud risiko pasar adalah fluktuasi pasar yang secara keseluruhan mempengaruhi variabilitas return suatu investasi. Perubahan ini dapat disebabkan oleh banyak faktor, seperti munculnya resesi ekonomi, kerusuhan, maupun perubahan politik.

3. Risiko inflasi
Inflasi yang meningkat akan mengurangi kekuatan daya beli rupiah yang telah diinvestasikan. Maka dari itu, risiko ini juga bisa disebut sebagai risiko daya beli.

4. Risiko bisnis
Risiko bisnis merupakan risiko yang terdapat dalam menjalankan bisnis suatu jenis industri. Misalnya perusahaan pakaian jadi yang bergerak di bidang industri tekstil, akan sangat dipengaruhi oleh karakteristik industri tekstil itu sendiri.

5. Risiko finansial
Risiko ini berkaitan dengan keputusan perusahaan untuk menggunakan hutang dalam pembiayaan modalnya. Semakin besar hutang yang digunakan, maka semakin besar pula risiko yang akan ditanggung.
6. Risiko likuiditas
Risiko ini berkaitan dengan kecepatan suatu sekuritas yang diterbitkan perusahaan bisa diperdagangkan di pasar sekunder. Semakin cepat suatu sekuritas diperdagangkan, maka semakin likuid sekuritas tersebut. Dan demikian pula sebaliknya.

7. Risiko nilai tukar mata uang (valas)
Risiko ini berkaitan dengan fluktuasi nilai tukar mata uang domestik dengan nilai mata uang negara lainnya. Risiko ini juga dikenal dengan nama currency risk atau exchange rate risk.

8. Risiko negara
Risiko ini juga disebut sebagai risiko politik, karena sangat berkaitan dengan kondisi perpolitikan suatu negara. Bagi perusahaan yang beroperasi di luar negeri, maka stabilitas ekonomi dan politik negara bersangkutan akan sangat perlu diperhatikan guna menghindari risiko negara yang terlalu tinggi.

Selain risiko di atas tersebut, dalam manajemen investasi dikenal pembagian risiko dalam dua jenis, yaitu risiko sistematis dan risiko unsistematis. Risiko sistematis merupakan risiko yang berkaitan dengan perubahan yang terjadi di pasar secara keseluruhan. Sedangkan risiko unsistematis merupakan risiko yang tidak berkaitan dengan perubahan pasar secara keseluruhan.

Pengertian Suku Bunga

Pengertian dari Risiko suku bunga adalah risiko yang timbul karena nilai relatif aktiva berbunga, seperti pinjaman atau obligasi, akan memburuk karena peningkatan suku bunga. Secara umum, jika suku bunga meningkat, harga obligasi berbunga tetap akan turun, demikian juga sebaliknya. Risiko suku bunga umumnya diukur dengan jangka waktu obligasi, teknik paling tua yang sekarang digunakan untuk mengelola risiko suku bunga.

Risiko suku bunga merupakan exposur kondisi keuangan suatu bank terhadap pegerakan suku bunga yang merugikan. Menerima risiko tersebut merupakan bagian yang normal dari bisnis bank, dan dapat merupakan bagian yang penting dalam menciptakan keuntungan dan peningkatan nilai saham. Perubahan dalam suku bunga berakibat berubahnya pendapatan bunga bersih dan tingkat pendapatan dan biaya operasional suatu bank yang sensitif terhadap perubahan suku bunga . Perubahan tingkat suku bunga juga berakibat pada underlying value instrument assets, liability dan Off Balance Sheet (OBF) karena present value dari future cash flow (bahkan cash flow –nya sendiri) berubah karena suku bunga berubah. Sesuai dengan itu maka agar proses manajemen suku bunga efektif, perlu dijaga supaya suku bunga tetap berada pada prudent level untuk keamanan dan kesehatan (soundness) bank.

Terdapat 2 (dua) perspective paling umum untuk melakukan asesmen terhadap risiko suku bunga bank ; yaitu :

- the earning perspective, yang difokuskan pada dampak perubahan suku bunga pada pendapatan bank yang akan diterima dalam jangka pendek,

- the economic value perspective, yang difokuskan pada nilai cash flow suatu bank .

Sumber risiko suku bunga

Sebagai ‘finacial intermediaries ‘ bank menghadapi risiko suku bunga dengan berbagai cara. Pembahasan yang utama dan paling sering, bentuk risiko suku bunga timbul dari perbedaan waktu dari jatuh tempo (maturity) dan repricing (penetapan ulang suku bunga) terhadap suku bunga mengambang (floating rate) dari assets, liabilities dan posisi Off Balance Sheet(OBS ). Sementara repricing terhadap ketidak sesuaian jatuh tempo (mismatch) merupakan fundamen dari bisnis bank, dapat meng-expose pendapatan dan underlying nilai ekonomi (economic value) terhadap fluktuasi yang tidak diperkirakan sebagai perbedaan suku bunga. Sebagai contoh, apabila bank mendanai suatu pinjaman jangka panjang ber- bunga tetap, dengan suatu deposit berjangka pendek, bank bisa menghadapi suatu penurunan baik pada future income yang berasal dari posisi pinjaman yang diberikan serta underlying value dari pinjaman tersebut, apabila terjadi kenaikan suku bunga . Penurunan tersebut terjadi karena cash flow dari pinjaman adalah tetap selama masa laku kredit, sedangkan cash flow yang dibayar pada deposit bersifat variable dan meningkat setelah jatuh temponya.

Repricing mismatches, juga dapat meng-expose perubahan slope dan bentuk pada kurva pendapatan (yield curve) . Risiko yield curve timbul apabila terdapat pergeseran yang tidak diperkirakan pada yield curve yang mengakibatkan dampak yang merugikan pada pendapatan bank atau underlying economic value. Sebagai contoh, underlying economic value dari suatu long position obligasi pemerintah berjangka waktu 10 tahun di hedge dengan suatu short position dari Government Notes berjangka waktu 5 tahun, dapat mengurangi secara tajam apabila yield curve tersebut curam (steepens), bahkan apabila posisi di hedge terhadap pergerakan parallel dari yield curve . Sumber risiko suku bunga lainnya yang penting, biasanya disebut sebagai basis risk , timbul dari hubungan yang tidak sempurna dalam penyesuaian tingkat bunga yang diperoleh dan dibayarkan dari instrument yang berbeda, namun dengan karakteristik repricing yang mirip. Apabila suku bunga berubah, maka perbedaan ini dapat menaikkan perubahan yang tidak diperhitungkan dalam cash flow dan spread pendapatan antara instrument instrumen asset, liabilities dan OBS dari jatuh tempo yang sama atau frekuensi-frekuensi repricing. Sebagai contoh, suatu strategi pendanaan untuk pemberian kredit dengan jangka waktu 1 tahun dengan deposit 1 tahun dengan variable rate yang ditetapkan tiap bulan (repricing) berdasarkan LIBOR, menggambarkan bahwa institusi tersebut menghadapi risiko bahwa spread antara 2 (dua) index suku bunga dapat berubah tak terduga.

Tambahan dan peningkatan sumber risiko suku bunga yang penting, timbul dari opsi (option) yang diikatkan (embedded) pada banyak portofolio asset, liability dan OBS bank. Formalnya, sebuah opsi menyediakan kepada pemegang opsi, hak namun bukan kewajiban, untuk membeli (buy), menjual (sell) atau dengan cara yang sama memilih cash flow dari suatu instrument atau financial contract. Opsi dapat berupa instrumen yang berdiri sendiri (‘stand alone ‘) seperti ‘exchange traded option’ (opsi perdagangan/jual beli valuta) dan over the counter (OTC) contract, atau dapat juga diikaitkan dalam instrument-instrumen standar. Sementara bank bank menggunakan exchange traded dan opsi OTC baik dalam rekening perdagangan maupun dalam rekening non perdagangan, instrumen-instrumen yang terikat opsi yang umumnya lebih penting dalam kegiatan non-trading. Contoh dari instrument yang terikat opsi meliputi berbagai tipe obligasi dan notes (surat utang) dengan ‘call’ atau ‘put’ provision, pinjaman dengan memberi hak kepada peminjam untuk menyelesaikan hutangnya lebih cepat, dan berbagai tipe non maturity deposit instruments yang memberi hak kepada depositor untuk menarik dananya setiap waktu, sering tanpa sesuatu penalty atau denda. Apabila tidak dikelola dengan baik, maka pembayaran instruments yang mempunyai karakteristik yang tidak saling menopang (asymmetrical payoff) dengan syarat opsi dapat memberikan risiko yang signifikan khususnya kepada mereka yang menjual, karena opsi yang dipegang, secara explicit dan mengikat, umumnya dilaksanakan sepanjang menguntungkan bagi pemegang hak opsi dan tidak menguntungkan bagi penjual. Lebih lanjut suatu daftar yang semakin panjang dari hak opsi dapat mempengaruhi leverage (perputaran) dan dapat memperbesar pengaruh (baik posistif maupun negatif) dari posisi opsi pada kondisi keuangan perusahaan.

Akibat yang ditimbulkan risiko suku bunga.

Sebagaimana dikemukakan diatas, perubahan dalam suku bunga dapat mempunyai pengaruh yang tidak menguntungkan baik bagi pendapatan bank maupun nilai ekonomi nya (economic value) . Hal ini memberikan 2 (dua) perspective yang terpisah namun saling melengkapi dalam melakukan asesmen terhadap exposure risiko suku bunga bank.

Dalam mengukur exposure risiko sukubunga, lebih lanjut perlu diperhatikan 2 (dua) aspek ;

(a.) perlakuan (treatment) terhadap posisi-posisi dimana kebiasaan jatuh temponya berbeda dari jatuh tempo menurut kontrak, dan

(b) perlakuan dari posisi-posisi yang dinominasi oleh mata uang yang berbeda. Posisi-posisi seperti ‘tabungan’ (saving) atau giro / deposito jangka pendek (sight deposit) mungkin mempunyai jatuh tempo atau mungkin ‘open ended’ (tanpa jatuh tempo), namun dalam tiap kasus penabung atau deposan umumnya mempunyai opsi untuk melakukan penarikan setiap waktu. Bank mungkin memilih tidak merubah bunga terhadap deposit tersebut sesuai dengan perubahan bunga dipasar.
Faktor-faktor tersebut sesuai dengan pengukuran exposure risiko suku bunga, karena tidak hanya nilai dari posisi, melainkan waktu dari cash flow juga berubah ketika sukubunga bergejolak. Terkait dengan asset bank, pembayaran lebih awal terhadap kredit perumahan (mortgage) dan efek beragun asset juga menimbulkan ketidak pastian terhadap waktu dari cash flow pada posisi-posisi tersebut.

Pengukuran Risiko Suku Bunga :

a)Aset, kewajiban dan rekening administratif yang akan dilakuka marked to market dikelompokkan kedalam trading book sedangkan transaksi dan posisi yang tidak dilakukan marked to market dikelompokkan kedalam banking book.

b) Umumnya posisi banking book tersebut tidak ditujukan untuk memperoleh keuntungan jangka pendek, namun akan dipelihara sampai jatuh tempo (held to maturity), seperti surat-surat berharga atau obligasi pada portofolio investasi.

c) Proses marked to market merupakan salah satu teknik yang mencerminkan nilai aset, transaksi derivatif, dan instrumen keuangan lainnya sekaligus merupakan metode yang tepat untuk mengukur posisi risiko aset dan instrumen keuangan tersebut.

d) Penilaian marked to market wajib mengacu pada PBI No.5/12/PBI/2003 tanggal 17 Juli 2003 mengenai Kewajiban Penyediaan Modal Minimum Dengan Memperhitungkan Risiko Pasar (Market Risk). Kecukupan dan keakurasian proses marked to market harus diverifikasi oleh pihak yang independen dari satuan kerja operasional, dan memiliki kompetensi yang relevan, seperti Satuan Kerja Manajemen Risiko.

e)Bagi Bank yang mengembangkan model internal dalam rangka kebutuhan intern bank , adapat menggunakan value at risk (VAR) guna mengukur keruguan maksimum yang diperkirakan aakan timbul dari suatu posisi atau portofolio tertentu sebagai akibat perubahan indikator sukubunga di pasar (sukubunga referensi), pada suatu interval tertentu. Pengukuran dengan metode VAR dapat dilakukan dengan berbagai metode statistik seperti variance/covariance, historical simulation dan Monte Carlo simulation.

f) Dalam rangka mencegah terjadinya penyimpangan hasil statistik dan perilaku sukubunga , Bank harus menggnakan sumber data , figur dan kriteria yang dihasilkan sendiri untuk melakukan pengujian atau tidak didasarkan atas sumber data yang diperoleh dari pihak lain.

g) Dalam menilai eksposur risiko sukubunga yang melekat pada beberapa aktivitas fungsional, Banksekurang-kurangnya dapat mengukur beberapa parameter, antara lain :
(1) potential loss karena fluktuasi suku bunga
(2) volatilitas sukubunga per jangka waktu.

h) Apabila diperlukan , Bank dapat melakukan koreksi atau perbaikan kriteria dan proses pricing yang bertujuan untuk menilai risiko kredit (banking book) secara tepat dengan menyesuaikan selisih sukubunga yang diterapkan terhadap sukubunga referensi (pasar).

Resiko Suku Bunga

Beberapa para ahli menyimpulkan bahwa suku bunga adalah sebagai berikut :

Menurut Karl dan Fair (2001:635) suku bunga adalah pembayaran bunga tahunan dari suatu pinjaman, dalam bentuk persentase dari pinjaman yang diperoleh dari jumlah bunga yang diterima tiap tahun dibagi dengan jumlah pinjaman.
Pengertian suku bunga menurut Sunariyah (2004:80) adalah harga dari pinjaman. Suku bunga dinyatakan sebagai persentase uang pokok per unit waktu. Bunga merupakan suatu ukuran harga sumber daya yang digunakan oleh debitur yang harus dibayarkan kepada kreditur.
Adapun fungsi suku bunga menurut Sunariyah (2004:81) adalah :

a. Sebagai daya tarik bagi para penabung yang mempunyai dana lebih untuk diinvestasikan.

b. Suku bunga dapat digunakan sebagai alat moneter dalam rangka mengendalikan penawaran dan permintaan uang yang beredar dalam suatu perekonomian. Misalnya, pemerintah mendukung pertumbuhan suatu sektor industri tertentu apabila perusahaan-perusahaan dari industri tersebut akan meminjam dana. Maka pemerintah memberi tingkat bunga yang lebih rendah dibandingkan sektor lain.

c. Pemerintah dapat memanfaatkan suku bunga untuk mengontrol jumlah uang beredar. Ini berarti, pemerintah dapat mengatur sirkulasi uang dalam suatu perekonomian.
Suku bunga itu sendiri ditentukan oleh dua kekuatan, yaitu : penawaran tabungan dan permintaan investasi modal (terutama dari sektor bisnis). Tabungan adalah selisih antara pendapatan dan konsumsi. Bunga pada dasarnya berperan sebagai pendorong utama agar masyarakat bersedia menabung. Jumlah tabungan akan ditentukan oleh tinggi rendahnya tingkat bunga. Semakin tinggi suku bunga, akan semakin tinggi pula minat masyarakat untuk menabung, dan sebaliknya.
Tinggi rendahnya penawaran dana investasi ditentukan oleh tinggi rendahnya suku bunga tabungan masyarakat.
Menurut Lipsey, Ragan, dan Courant (1997 : 471) suku bunga adalah harga yang dibayarkan untuk satuan mata uang yang dipinjam pada periode waktu tertentu.
Menurut Lipsey, Ragan, dan Courant (1997 : 99-100) suku bunga dapat dibedakan menjadi dua yaitu suku bunga nominal dan suku bunga riil. Dimana suku bunga nominal adalah rasio antara jumlah uang yang dibayarkan kembali dengan jumlah uang yang dipinjam. Sedang suku bunga riil lebih menekankan pada rasio daya beli uang yang dibayarkan kembali terhadap daya beli uang yang dipinjam. Suku bunga riil adalah selisih antara suku bunga nominal dengan laju inflasi. Menurut Samuelson dan Nordhaus (1998) suku bunga adalah pembayaran yang dilakukan atas penggunaan sejumlah uang.

Menurut Nopirin (1992:176) fungsi tingkat bunga dalam perekonomian yaitu alokasi faktor produksi untuk menghasilkan barang dan jasa yang dipakai sekarang dan di kemudian hari.
Menurut Ramirez dan Khan (1999) ada dua jenis faktor yang menentukan nilai suku bunga, yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal meliputi pendapatan nasional, jumlah uang beredar, dan inflasi. Sedang faktor eksternal merupakan suku bunga luar negeri dan tingkat perubahan nilai valuta asing yang diduga.
Menurut Prasetiantono (2000) mengenai suku bunga adalah : jika suku bunga tinggi, otomatis orang akan lebih suka menyimpan dananya di bank karena ia dapat mengharapkan pengembalian yang menguntungkan. Dan pada posisi ini, permintaan masyarakat untuk memegang uang tunai menjadi lebih rendah karena mereka sibuk mengalokasikannya ke dalam bentuk portfolio perbankan (deposito dan tabungan). Seiring dengan berkurangnya jumlah uang beredar, gairah belanja pun menurun. Selanjutnya harga barang dan jasa umum akan cenderung stagnan, atau tidak terjadi dorongan inflasi. Sebaliknya jika suku bunga rendah, masyarakat cenderung tidak tertarik lagi untuk menyimpan uangnya di bank.
Beberapa aspek yang dapat menjelaskan fenomena tingginya suku bunga di Indonesia adalah tingginya suku bunga terkait dengan kinerja sektor perbankan yang berfungsi sebagai lembaga intermediasi (perantara), kebiasaan masyarakat untuk bergaul dan memanfaatkan berbagai jasa bank secara relatif masih belum cukup tinggi, dan sulit untuk menurunkan suku bunga perbankan bila laju inflasi selau tinggi ( Prasetiantono, 2000 : 99-101)

Jenis Suku Bunga

•       Bunga sederhana: adalah merupakan hasil dari pokok utang, suku bunga per periode, dan lamanya waktu peminjaman.

Rumusan bunga sederhana yaitu: c=pbw, dimana c (bunga sederhana) adalah merupakan hasil dari p (pokok utang), b (bunga), dan w (waktu).

•      Bunga berbunga atau disebut juga bunga majemuk : nilai pokok utang ini akan berubah terus setiap akhir suatu periode dengan penambahan perhitungan bunga .

Suku Bunga tetap dan mengambang

•       “Suku bunga tetap” adalah suku bunga pinjaman tersebut tidak berubah sepanjang masa kredit.

•      “Suku bunga mengambang” adalah suku bunga yang berubah-ubah selama masa kredit berlangsung dengan mengikuti suatu kurs referensi tertentu seperti misalnya LIBOR dimana cara perhitungannya dengan menggunakan sistim penambahan marjin terhadap kurs referensi.

Suku Bunga terendah sepanjang masa

Menurut dari penelitian, Suku Bunga pernah mengalami kontribusi yang sangat rendah.

Kendati banyak pihak mengeluhkan suku bunga kredit yang tidak kunjung turun, bankir justru menegaskan bahwa tingkat suku bunga kredit saat ini merupakan yang terendah sepanjang sejarah. “Suku bunga 10-13 persen itu paling rendah sejak Indonesia merdeka,” ujar Ketua Persatuan Bank Nasional (Perbanas) Sigit Pramono di Jakarta, Jumat (9/10).

Dia mengakui, suku bunga kredit di Indonesia memang masih terbilang tinggi bila dibandingkan dengan negara lain, seperti Singapura dan Malaysia.

Namun, menurutnya sejumlah negara tersebut mematok suku bunga depositonya dengan rendah, bahkan hampir mendekati nol persen. “Diperhitungkan juga, berapa mereka memberi bunga deposito. Sangat rendah. Di Jepang hampir nol. Kita kan tinggi bunga depositonya,” ujar Sigit yang juga menjabat sebagai Komisaris Independen BCA ini.
kompas

Suatu sistem pengendalian intern risiko suku bunga mencakup :

o Suatu lingkungan pengendalian yang kuat
o Suatu proses yang memadai untuk meng-identifikasi mengevaluasi risiko,
o Menetapkan aktivitas pengendalian seperti, kebijakan, prosedur dan methodologi,
o Sistem informasi yang memadai, dan
o Kaji ulang yang berkesinambungan terhadap kebijakan dan prosedur

Pengendalian Risiko Suku Bunga :

1. Pengendalian risiko dan tanggung jawab manajemen operasional atas posisi yang dikelola hingga jatuh waktu (banking book) harus ditetapkan dalam organisasi bank. Tanggung jawab tersebut antara lain meliputi : a) Rekonsiliasi posisi yang dikelola dan dicatat dalam sistem informasi manajemen.
b) Pengendalian terhadap akurasi profit and loss dan kepatuhan pada ketentuan dan standar akunting yang berlaku, terutama pengakuan diskon, pembukuan premium dan pengakuan secara akrual dari kupon.
c) Pengklasifikasian dan pembentukan provisi yang tepat sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

2. Untuk surat berharga dan obligasi yang terdaftar atau diperdagangkan di Pasar Modal, Bank harus menerapkan proses pengendalian intern yang bertujuan untuk memantau selisih kredit (credit spread) dari surat berharga dan Obligasi tersebut dengan membandingkan hasil (yield) dari posisi portofolio tersebut dengan Obligasi Pemerintah.

3. Dengan mengabaikan kriteria ketentuan yang mengatur pembentukan provisi apabila Bank menilai bahwa credit spread mengalami pelebaran maka Bank harus melakukan analisis mengenai kondisi dan prospek penerbit surat berharga dan obligasi. Apabila hasil analisis dan sentimen pasar menunjukkan kesimpulan bahwa kegagalan penerbit semakin meningkat maka Bank harus segera membentuk provisi dalam perspektif kehati-hatian.

4. Apabila kemungkinan terjadi kegagalan memelihara eksposur risiko sukubunga teridentifikasi semakin meningkat, Bank sekurang-kurangnya harus:
a) Menghentikan pengakuan diskon.
b) Menerapkan pemantauan secara ketat terhadap surat berharga dan obligasi tersebut serta mengambil tindakan yang diperlukan untuk mengurangi kerugian.

5. Terhadap yang tidak terdaftar atau diperdagangkan di pasar, Bank harus melakukan review secara berkala terhadap kondisi, kredibilitas dan kemampuan membayar kembali penerbit surat berharga dan obligasi. Review dilakukan dengan menghimpun dan menganalisis laporan keuangan , proyeksi arus kas dan seluruh dokumen yang relevan tentang penerbit. Review secara berkala terhadap surat berharga dan obligasi tersebut harus didokumentasikan dan dilakukan sekurang-kurangnya setiap 6 (enam) bulan.

6. Apabila Bank melakukan kontrak transaksi derivatif, seperti interest rate swaps maka dalam rangka tujuan lindung nilai dan penerapan strategi ALMA, Bank harus memastikan bahwa standar akunting yang digunakan telah sesuai dengan ketentuan dan standar akunting yang berlaku.

7. Apabila transaksi tersebut dilakukan dalam rangka lindung nilai, Bank harus menerapkan tanggung jawab yang jelas dan pengendalian intern yang bertujuan untuk :
a. memastikan bahwa standar akunting yang digunakan tidak menimbulkan penyimpangan pada pengakuan pendapatan.
b. mengecek bahwa transaksi tersebut telah efektif dilaksanakan sesuai dengan instruksi atau rekomendasi komite aset dan kewajiban (ALCO) dan transaksi tersebut mengurangi eksposur sukubunga secara keseluruhan.
c. Menilai kembali secara berkala bahwa lindung nilai telah efektif khususnya dalam perhitnungan rasio lindung nilai dan perbandingan rasio tersebut dari waktu ke waktu
d. memastikan bahwa kontrak ytransaksi tersebut tetap dikelola hingga jatuh tempo dsn tidsk skan dialihkan ke posisi trading.
e. Mengecek bahwa persyaratan jontrak transaksi secara intern (internals Deals).
f. Menilai kembali kredibilitas pihak lawan (counteroarts) dan mencegah penempatan yang terkonsentrasi karena apabila terjadi devault maka strategi lindung nilai akan menjadi tidak efektif.
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KESIMPULAN

            Pengertian dari Risiko suku bunga adalah risiko yang timbul karena nilai relatif aktiva berbunga, seperti pinjaman atau obligasi, akan memburuk karena peningkatan suku bunga. Secara umum, jika suku bunga meningkat, harga obligasi berbunga tetap akan turun, demikian juga sebaliknya. Risiko suku bunga umumnya diukur dengan jangka waktu obligasi, teknik paling tua yang sekarang digunakan untuk mengelola risiko suku bunga.

Tambahan dan peningkatan sumber risiko suku bunga yang penting, timbul dari opsi (option) yang diikatkan (embedded) pada banyak portofolio asset, liability dan OBS bank. Formalnya, sebuah opsi menyediakan kepada pemegang opsi, hak namun bukan kewajiban, untuk membeli (buy), menjual (sell) atau dengan cara yang sama memilih cash flow dari suatu instrument atau financial contract. Opsi dapat berupa instrumen yang berdiri sendiri (‘stand alone ‘) seperti ‘exchange traded option’ (opsi perdagangan/jual beli valuta) dan over the counter (OTC) contract, atau dapat juga diikaitkan dalam instrument-instrumen standar. Sementara bank bank menggunakan exchange traded dan opsi OTC baik dalam rekening perdagangan maupun dalam rekening non perdagangan, instrumen-instrumen yang terikat opsi yang umumnya lebih penting dalam kegiatan non-trading. Contoh dari instrument yang terikat opsi meliputi berbagai tipe obligasi dan notes (surat utang) dengan ‘call’ atau ‘put’ provision, pinjaman dengan memberi hak kepada peminjam untuk menyelesaikan hutangnya lebih cepat, dan berbagai tipe non maturity deposit instruments yang memberi hak kepada depositor untuk menarik dananya setiap waktu, sering tanpa sesuatu penalty atau denda. Apabila tidak dikelola dengan baik, maka pembayaran instruments yang mempunyai karakteristik yang tidak saling menopang (asymmetrical payoff) dengan syarat opsi dapat memberikan risiko yang signifikan khususnya kepada mereka yang menjual, karena opsi yang dipegang, secara explicit dan mengikat, umumnya dilaksanakan sepanjang menguntungkan bagi pemegang hak opsi dan tidak menguntungkan bagi penjual. Lebih lanjut suatu daftar yang semakin panjang dari hak opsi dapat mempengaruhi leverage (perputaran) dan dapat memperbesar pengaruh (baik posistif maupun negatif) dari posisi opsi pada kondisi keuangan perusahaan.

 

SUMBER:

  1.  http://id.shvoong.com/books/1904110-macam-macam-risiko/#ixzz1c5FTW37g
  2. http://hightek-bet.blogspot.com
  3. Sumber : id.wikipedia.org/wiki/Suku_bunga
  4. kompas
  5. Bappenas Blog

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

RISIKO VALAS

RESIKO VALAS

Valuta asing atau biasa disebut juga dengan kata lain seperti valas, Foreign Exchange, forex atau juga fx adalah mata uang yang di keluarkan sebagai alat pembayaran yang sah di negara lain pasar valuta asing sendiri mengalami pertumbuhan yang pesat pada awal decade 70’an. Valuta Asing yang biasa disingkat Valas atau dalam bahasa inggris dikenal sebagai forex ( singkatan dari Foreign Exchange ), yang berarti pertukaran uang dari nilai mata uang yang berbeda pasar valuta asing ini menyediakan pasar sarana fisik maupun dalam pasar kelembagaan untuk melakukan perdagangan mata uang asing, menentukan nilai tukar mata uang asing, dan menerapkan managemen mata uang asing.

Adapun yang menyebabkan pasar valuta asing bertumbuh dengan pesat antara lain adalah:

1. Pergerakan nilai valuta asing yang mengalami pergerakan cukup signifikan sehingga menarik bagi beberapa kalangan tertentu untuk berkecimpung di dalam pasar valuta asing.

2. Bisnis yang semakin mengglobal. Dengan semakin sengitnya persaingan bisnis membuat perusahaan harus mencari sumber daya baru yang lebih murah, dan tersebar di seluruh dunia sehingga menimbulkan permintaan akan mata uang suatu negara tertentu.

3. Perkembangan telekomunikasi yang begitu cepat dengan adanya sarana telepon, telex, faximile, internet maka memudahkan para pelaku pasar untuk berkomunikasi sehingga transaksi lebih mudah di lakukan.

4. Keuntungan yang di peroleh di pasar valuta yang cenderung besar meningkatakan

keinginan berbagai pihak berusaha memperoleh gain dari pergerakan valuta asing.

 

 

Para pelaku Pasar Valas

  1. A.    Dealer

Dealer pada umumnya disebut juga sebagai market maker yang berfungsi sebagai pihak yang membuat pasar bergairah di pasar uang. Dealer umumnya mengkhususkan pada mata uang tertentu dan menetapkan tingkat persediaan tertentu pada mata uang tersebut. Biasanya yang bertindak sebagai dealer adalah pihak bank, meskipun ada juga beberapa yang nonbank. Mereka mendapatkan keuntungan dari selisih harga jual dan harga beli valuta asing.

 

  1. B.     B. Perusahaan atau Perorangan

Perusahaan maupun individu dapat pula melakukan transaksi perdagangan valuta asing (valas). Pasar valuta asing dimanfaatkan untuk memperlancar transaksi bisnis. Yang termasuk dalam kelompok ini adalah eksportir, importir, investor internasional, perusahaan multinasional dan lain-lainnya.

 

  1. C.    C. Spekulan dan Arbitrator

Spekulan dan arbitrator bertindak atas kehendak mereka sendiri dan mereka tidak memiliki kewajiban untuk melayani konsumen serta tidak menjamin kelangsungan pasar, berbeda dari dealer. Spekulan juga pelaku pasar yang akan meramaikan transaksi di pasar uang. Para spekulan dapat keuntungan dari perubahan atau fluktuasi harga umum (capital gain ). Sementara itu, arbitrator memperoleh keuntungan dengan memanfaatkan perbedaan harga di berbagai pasar.

 

D. Bank Sentral

Fungsi Bank Sentral dalam pasar valuta asing umumnya adalah sebagai stabilitator nilai tukar mata uang lokal. Bank Sentral memanfaatkan pasar valuta asing untuk mendapatkan atau membelanjakan cadangan valuta asingnya agar dapat mempengaruhi stabilitas nilai tukar mata uang sehingga berdampak positif bagi perekonomian nasional negara.

 

E. Pialang

Pialang bertindak sebagai perantara yang mempertemukan penawaran dan permintaan terhadap mata uang tertentu. Agar dapat melaksanakan tugasnya dengan baik, perusahaan pialang memiliki akses langsung dengan dealer dan bank di seluruh dunia.

Fungsi Pasar Uang :

• Merupakan sarana alternatif khususnya bagi lembaga-lembaga keuangan, perusahaan- perusahaan non keuangan dan peserta-peserta lainnya baik dalam memenuhi kebutuhan dana jangka pendeknya maupun dalam rangka penempatan dana atas kelebihan likuiditasnya.

 

• Melakukan transfer mata uang sebuah negara dengan negara lain, agar bisa dipergunakan

di negara tersebut ( mentransfer daya beli antar negara )

 

• Mendapatkan atau menyediakan kredit untuk membiayai transaksi perdagangan

internasional

 

• Sebagai sarana untuk memperkecil resiko karena perubahan kurs.

 

Mata Uang Dunia Yang Biasanya di Perdagangkan

Ada tujuh mata uang dunia yang biasanya di perdagangkan oleh tujuh mata uang dunia tersebut adalah :
1. Dolar Amerika / USD
2. Poundsterling Inggris / GBP
3. Euro Dolar / EUR
4. Swiss Franc / CHF5. Japanese Yen / JPY
6. Australian Dolar / AUD
7. Canadian Dolar / CAD

 

Jenis – Jenis Risiko Investasi :

Risiko yang mungkin dihadapi dalam kegiatan investasi di pasar uang antara lain :

1. Risiko pasar (Market Risk), Risiko yang berkaitan dengan kenaikan tingkat bunga,

mengakibatkan investor mengalami capital loss.

2. Risiko Reinvestment, Risiko yang berkaitan dengan turunnya harga sekuritas.

3. Risiko Gagal Bayar, Risiko yang terjadi akibat tidak mampunya peminjam (debitur)

memenuhi kewajibannya sesuai dengan yang diperjanjikan.

4. Risiko Inflasi, Pemberi pinjaman menghadapi kemungkinan naiknya hargaharga barang

dan jasa yang menurunkan daya beli atas pendapatan yang diterimanya.

5. Risiko Valuta (Currency risk), Risiko yang terjadi karena perubahan yang tidak

menguntungkan terhadap kurs mata uang asing.

6. Risiko Politik, Risiko yang berkaitan dengan perubahan undang-undang atau peraturan

pemerintah.

 

Instrumen Pasar Uang

1. Treasury Bills (T-Bills)

Instrumen utang yang diterbitkan oleh Pemerintah dan Bank Sentral dengan jumlah

tertentu yang akan dibayarkan kepada pemegang pada tanggal yang telah ditetapkan.

 

2. Commercial Paper (CP)

Commercial Paper adalah surat berharga yang dikeluarkan oleh perusahaan swasta/BUMN. CP adalah surat janji untuk membayar kembali jumlah hutang yang diterima pada suatu tanggal tertentu. Bunga CP juga didapatkan dengan menggunakan diskonto Berbeda dengan Bank Acceptance atauipun Sertifikat Deposito, pelunasan CP tidak dijamin oleh bank maupun suatu hak kebendaan (Unsecured Promisory Notes).

 

3. Sertifikat Deposito (CD). 

Sertifikat deposito adalah surat berharga yang dikeluarkan oleh Bank. Sebagaimana Bank Acceptance, bunga sekuritas didapatkan dengan menggunakan diskonto. CD biasa diperdagangkan sebelum jatuh tempo untuk mendapatkan nilai tunainya.

 

4. Bank Acceptance (BA) / Wesel Tagih

Bank Accetance adalah surat berharga yang timbul karena suatu pihak memiliki tagihan kepada pihak lain. Oleh karena pihak yang memiliki uang tersebut memerlukan dana dalam waktu singkat maka tagihan tersebut dapat dijual dengan mendapatkan jaminan pembayaran dari bank. Biasanya terdapat pada transaksi ekspor/impor yang dilakukan dengan sarana letter of credit (L/C).

 

5. Bill of Exchange

Bill of Exchange atau wesel adalah suatu perintah tertulis tak bersyarat yang ditujukan oelh seseorang kepada pihak lainnya untuk membayar sejumlah uang tertentu pada saat diperlihatkan atau pada tanggal tertentu kepada penari atau pembawa.

 

6. Sertifikat Bank Indonesia (SBI)

Sertifikat Bank Indonesia adalah surat berharga yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia. SBI diterbitkan oleh BI lebih ditujukan sebagai alat kebijakan moneter dimana tingkat suku bunganya ditentukan berdasarkan lelang yang dilakukan di Bank Indonesia. Jangka waktu SBI adalah 1,3,6 bulan dan 1 tahun.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Manajemen Risiko Valas

Untuk dapat mengurangi risiko valas, maka salah satu strategi yang dapat dipergunakan adalah dengan cara mengatasiexposure yang disebabkan oleh mata uang asing, maka dapat dilakukan“Hedging”.Hedging adalah suatu aktivitas lindung nilai dalam rangka mengantisipasi pergerakan mata uang asing.

Manfaat dari hedging yaitu melindungi asset perusahaan dari potensi kerugian valas, serta mengurangi variasi dari arus kas di masa depan. Perusahaan memperoleh suatu kepastian melalui hedging. Teknik-teknikhedging yang pada umumnya digunakan untuk mengatasi transaction exposure antara lain adalah:

 

A.Forward Hedge

Cara yang paling sederhana dalam menghilangkan transaction exposure adalah dengan melakukan forward hedge. Forward hedge memungkinkan perusahaan untuk mematok nilai valas untuk masa depan, yang sudah ditentukan sejak hari ini. Misalnya, sebuah perusahaan AS mengekspor ke Eropa, dan akan menerima pembayaran sebesar €50,000 dalam 90 hari ke depan. Spot Rate saat ini adalah $1.3950/€, sementara 3 month forward rate adalah $1.3840/€. Dengan melakukan forward hedge, maka dalam 3 bulan  mendatang perusahaan AS akan menerima €50,000 dan menukarkannya padarate  $1.3840/€, dan menerima $62,900. Meskipun lebih kecil dari perkiraan $69,750 tanpa hedging, namun dengan melakukan forward hedge berarti mengeliminasi transaction exposure. Tanpa melakukan hedging, maka perusahaan terekspos oleh risiko pergerakan mata uang asing, bisa mendapatkan keuntungan ataupun kerugian. Keunggulan menggunakan forward hedge yakni seandainya rate forward memprediksi spot rate di masa depan dengan tepat, maka real cost of hedging adalah nol.

 

            Kekurangan dari forward hedge antara lain adalah bisnis kecil kadang tidak dapat mengaksesnya, karena bank terekspos risiko bahwa perusahaan tidak memenuhi kontrak forward hedge tersebut. Perusahaan yangcr editwor thines s nya kurang baik juga bisa ditolak oleh bank. Sehingga, salah satu opsi lainnya yakni dengan melakukan futures hedge.

 

B.Futures Hedge

Konsep dalamforward dan futures hedge pada dasarnya sama, yang berbeda adalah mekanismenya. Jika forward makacounterparty adalah bank, maka dalam futures mekanismenya adalah menggunakan. Kelemahan dari metode ini adalah penggunaan

marked to market, sehingga dalam pergerakan harian bisa tercipta mendapatkan

keuntungan ataupun kerugian, dan jika margin tidak cukup kuat, maka bisa terkenacall

margin.

 

C. Money Market Hedge

Hedging di pasar uang yakni aktivitas lindung nilai untuk utang maupun piutang di masa depan, dengan cara mengambil posisi di pasar uang. Money market hedge meliputi aktivitas meminjam dan berinvestasi dengan mata uang yang berbeda. Misalnya, jika sebuah perusahaan punya piutang sebanyak $100,000, maka terekspos risiko jika nantinya Dollar melemah terhadap Rupiah. Untuk mengeliminasi risiko tersebut, maka perusahaan bisa mengambil pinjaman dalam Dollar, menukarnya ke Rupiah, kemudian berinvestasi pada pasar uang. Selanjutnya hasil pembayaran piutang tersebut akan digunakan untuk melunasi pinjaman.

 

 

D. Currency Option Hedge

Hedging menggunakan option yakni dengan menggunakan hak beli atau hak jual

sejumlah mata uang asing pada tingkat harga tertentu untuk melakukan lindung nilai.

Hedging options memungkinkan perusahaan untuk melindungi risiko pergerakan mata

uang asing yang tidak diharapkan, juga memungkinkan perusahaan untuk menanggung

untung.

 

STRATEGI MENGURANGI RISIKO VALAS

Ketatnya likuidasi dan mengurangnya mata uang dolar terhadap sebagian besar mata uang di dunia berdampak pada kelemahan ekonomi global. Berbagai Negara di dunia termasuk Indonesia berusaha memproteksi ekonomi negrinya dengan mengeluarkan kebijakan yang mendorong ekspor.

Kepada industry kecil dan menengah yang berorientasi ekspor, pemerintah Idonesia me,berikan sejumlah intensif menarik. Misalnya, insentif fiscal berupa bea masuk ditanggung pemerintah terhadap 11 sektor industry, diantaranya, industry jasa pelayanan kendaraan bermotor, pengolahan susu, dan komponen elektronik. Upaya mengurangi ekonomi biaya tinggi ditempuh pemerintah dengan menurunkan biaya dan mempersingkat waktu transaksi bisnis melalui transaksi satu pintu dan penurunan biaya Terminal Handling Cost di pelabuhan. Bank Indonesia juga turut mendukung eksportir dengan mengeluarkan peraturan pembelian wesel eksport berjangka.

Pemerintah berusaha mendorong industry kecil untuk menembus pasar alternative seperti Timur Tengah, Cina,dan India. Alasanya, GDP tinggi, pertumbuhan ekonomi mesih relative tinggi, lokasi dekat dan memiliki hubungan baik dengan RI. Sementara produk yang masih berpotensi ekspor antara lain, produk makanan minuman, komoditas perhiasan, barang dari kulit, elektronika, mobil dan komponennya, serta garmen dan tekstil.

Meski mendapat dukungan dari pemerinntah, industry kecil tetap harus pandai mencari strategi terutama terkait dengan resiko valas. Untuk itu ada tiga hal penting yang tidak boleh ditinggalkan:

Pertama, sangat penting bagi eksportir untuk mengena mitra dagang dan Negara tujuan

ekspor dengan baik sehingga dapat menemukan cara untukmemotong biaya

Kedua, cermati dan hitung komponen bisnis yang memiliki risiko terpengaruhi oleh

perbedaan nilai valas, yaitu segala transaksi yang menggunakan mata uang asing. Ketiga, upayakan “natural hedging” yakni pengeluaran dan pembelian dalam mata uang yang sama. Namun, jika tidak biasa, gunakan fasilitas linding nilaai valas dari bank yang dipercaya

Sumber majalahSWA hal 53

 

KESIMPULAN :

Sebelum melakukan ekspor yang harus diperhatikan adalah pengenaan pajak di Negara tujuan ekspor, karena dengan kita mengetahui besarnya tariff pajak yang dikeluarkan di Negara tujuan sehingga kita dapat mengasosiasi harga. Selain itu, perusahaan juga harus bisa meminimalisasi dampak resiko kurs, diantaranya:

Mengurangi jumlah transaksi yang dilakukan perusahaan dalam rangka mengurangi risiko kurs. Penyesuaian harga dapat dilakukan dengan cara menaikan atau menurunkan harga jual untuk menutup perbedaan. Dan perusahaan dapt merubah mata uang yang digunakan dalam penjualan.

(Vibizmanagement – Risk Management) – Jika suatu bisnis masuk ke dalam perdagangan internasional, maka tentunya mereka terekspos terhadap risiko valuta asing. Risiko ini terdiri dari beberapa macam, dan masing-masing punya strategi tersendiri untuk mengelolanya.

Pada umumnya, Terdapat tiga jenis exposure valuta asing, diantaranya: 1) transaction exposure;

2) operating exposure; dan 3) translation exposure.

Untuk mengatasi exposure yang disebabkan oleh mata uang asing, maka bisa dilakukan hedging. Hedging adalah suatu aktivitas lindung nilai dalam rangka mengantisipasi pergerakan mata uang asing. Manfaat dari hedging antara lain melindungi dari potensi kerugian valas, serta mengurangi variasi dari arus kas di masa depan. Perusahaan memperoleh suatu kepastian melalui hedging.

Menurut Eitman, beberapa aktivitas yang dapat mengakibatkan suatu transaction

exposure diantaranya adalah:
1. Membeli/menjual dalam kredit dengan harga dalam valas
2. meminjam/ memberi pinjaman, dengan sistem pelunasan menggunakan valas
3. masuk ke dalam kontrak forward valas
4. memperoleh asset atau liabilities dalam valas

Seperti yang telah diungkapkan diatas, ketika perusahaan menghadapi transaction exposure, ia mempunyai dua opsi, yakni hedging atau tidak. Seandainya perusahaan tidak mau melakukan hedging, maka opsi yang dimilikinya untuk meminimalisir risiko valas adalah:

1. mentransfer risiko tersebut terhadap pihak lain. Misalnya, perusahaan Indonesia mengenakan harga jual produk ekspornya ke AS dalam Rupiah, bukannya Dollar. Sehingga, pihak lawan (importir AS) yang terekspos terhadap pergerakan mata uang Rupiah.

2. meminta pelunasan cepat. Risiko mata uang asing dapat diminimalisir jika perusahaan meminta pelunasan secepatnya, sehingga bisa menggunakan nilai mata uang spot.

3. melakukan netting. Ini biasanya dilakukan oleh perusahaan MNC yang punya banyak cabang dan melakukan banyak transaksi valas. Yang dilakukan adalah mengkonsolidasikan seluruh posisi mata uang asing dalam satu negara, dan dihitung net-nya dari transaksi-transaksi yang terjadi dengan pihak lain.

Demikian jika perusahaan memilih untuk tidak melakukan hedging. Bagaimana langkah-langkah yang dilakukan jika perusahaan memutuskan untuk mengambil posisi hedging?

(Vibizmanagement – Risk) – Teknik-teknik hedging yang pada umumnya digunakan

untuk mengatasi transaction exposure antara lain adalah:

Forward hedge

Cara yang paling sederhana dalam menghilangkan transaction exposure adalah dengan melakukan forward hedge. Forward hedge memungkinkan perusahaan untuk mematok nilai valas untuk masa depan, yang sudah ditentukan sejak hari ini. Kontrak forward pada umumnya dilakukan dengan pihak bank sebagai counterparty.

Misalnya, sebuah perusahaan AS mengekspor ke Eropa, dan akan menerima pembayaran sebesar €50,000 dalam 90 hari ke depan. Spot rate saat ini adalah $1.3950/€, sementara 3-month forward rate adalah $1.3840/€. Dengan melakukan forward hedge, maka dalam 3 bulan mendatang perusahaan AS akan menerima €50,000 dan menukarkannya pada rate $1.3840/€, dan menerima $62,900.

Meskipun lebih kecil dari perkiraan $69,750 tanpa hedging, namun dengan melakukan forward hedge berarti mengeliminasi transaction exposure. Tanpa melakukan hedging, maka perusahaan terekspos oleh risiko pergerakan mata uang asing, bisa gain ataupun loss.

Keunggulan menggunakan forward yakni seandainya rate forward memprediksi

spot rate di masa depan dengan tepat, maka real cost of hedging adalah nol.

Kekurangan dari forward hedge antara lain adalah bisnis kecil kadang tidak dapat mengaksesnya, karena bank terekspos risiko bahwa perusahaan tidak memenuhi kontrak forward tersebut. Perusahaan yang creditworthinessnya kurang baik juga bisa ditolak oleh bank. Sehingga, salah satu opsi lainnya yakni dengan melakukan futures hedge.

Futures hedge

 

Konsep dalam forward dan futures hedge pada dasarnya sama, yang berbeda adalah mekanismenya. Jika forward maka counterparty adalah bank, maka dalam futures mekanismenya adalah menggunakan kelemahan dari metode ini adalah penggunaan marked to market, sehingga dalam pergerakan harian bisa tercipta gain ataupun loss, dan jika margin tidak cukup kuat, maka bisa terkena call margin.

Money market hedge

Hedging di pasar uang yakni aktivitas lindung nilai untuk utang maupun piutang di

masa depan, dengan cara mengambil posisi di pasar uang. Money market hedge meliputi aktivitas meminjam dan berinvestasi dengan mata uang yang berbeda.

Misalnya, jika sebuah perusahaan punya piutang sebanyak $100,000, maka terekspos risiko jika nantinya Dollar melemah terhadap Rupiah. Untuk mengeliminasi risiko tersebut, maka perusahaan bisa mengambil pinjaman dalam Dollar, menukarnya ke Rupiah, kemudian berinvestasi pada pasar uang. Selanjutnya hasil pembayaran piutang tersebut akan digunakan untuk melunasi pinjaman.

Currency option hedge

Hedging menggunakan option yakni dengan menggunakan hak beli atau hak jual sejumlah mata uang asing pada tingkat harga tertentu untuk melakukan lindung nilai. Hedging options memungkinkan perusahaan untuk melindungi risiko pergerakan mata uang asing yang tidak diharapkan, juga memungkinkan perusahaan untuk menangguk untung.

Berikut ini adalah ringkasan dari strategi hedging transaction exposure.

 

 

 

 

 

SUMBER :

http://www.scribd.com/doc/31592442/Strategi-Mengurangi-Risiko-Valas

www.scribd.com/doc/31592407/RISIKO-VALUTA-ASING

www.lintasberita.com/Dunia/…/strategi-mengelola-risiko-valas

http://www.jpnn.com/read/2011/08/26/101654/Waspadai-Risiko-Valas-

 

 

RISIKO ( RISK) adalah bentuk keadaan ketidakpastian tentang suatu keadaan yang akan terjadi di masa depan dengan keputusan yang diambil berdasarkan berbagai pertimbangan pada saat ini.

Manajemen Risiko adalah usaha yang secara rasional ditujukan untuk mengurangi kemungkinan terjadinya kerugian dari risiko yang dihadapi.

Manfaat Manajemen Risiko :

  1. Perusahaan memiliki ukuran kuat sebagai pijakan dalam mengambil setiap keputusan.
  2. Mampu memberikan arah bagi perusahaan dalam melihat pengaruh yang mungkin timbul baik jangka pendek maupun jangka panjang.
  3. Mendorong para manajer dalam mengambil keputusan untuk selalu menghindari risiko dan menghindari dari pengaruh terjadinya kerugian khususnya kerugian finansial.
  4. Memungkinan perusahaan memperoleh risiko kerugian yang minimum.
  5. Dengan adanya konsep manjemen risiko yang dirancang secara detail maka perusahaan telah membangun arah dan mekanisme secara berkelanjutan.

 

Tahapan Manajemen Risiko :

  1. Identifikasi Risiko.
  2. Mengidentifikasi bentuk-bentuk risiko.
  3. Menempatkan ukuran-ukuran risiko.
  4.  Menempatkan alternatif.
  5. Menganalisis setiap alternatif.
  6. Memutuskan satu alternatif.
  7. Melaksanakan alternatif yang dipilih.
  8. Mengontrol alternatif terpilih.
  9. Mengevaluasi jalannya alternatif yang dipilih.

Jenis-jenis Risiko :

  1. 1.      Speculative Risk

Adalah risiko yang mengandung dua kemungkinan yaitu kemungkinan yang menguntungkan atau kemungkinan yang merugikan.

Misal : Judi, pembelian saham, pembelian valas.

  1. 2.      Pure Risk

Adalah risiko yang hanya mengandung satu kemungkinan, yaitu kemungkinan rugi saja.

Misal : bencana alam, resesi ekonomi.

 

Sumber Risiko :

  • Risiko Sosial.
  • Risiko Fisik.
  • Risiko Ekonomi.

RISIKO KREDIT

Merupakan bentik ketidakmampuan suatu perusahaan, institusi, lembaga maupun pribadi dalam menyelesaikan kewajiban-kewajibannya secara tepat waktu baik pada saat jatuh tempo dan itu semua sesuai dengan aturan dan kesepakatan yang berlaku.

 

Risiko kredit dari perspektif perbankan adalah risiko kerugian yang diderita bank, terkait dengan kemungkinan bahwa pada saat jatuh tempo, counterparty-nya gagal memenuhi kewajibannya kepada bank.

 

Keputusan menyalurkan kredit ke berbagai sektor bisnis tidak selalu terjadi sesuai seperti yang diharapkan, karena ada berbagai bentuk risiko yang akan dialami baik risiko yang bersifat jangka pendek maupun jangka panjang.

 

Risiko yang bersifat jangka pendek ( short term risk ) adalah risiko yang disebabkan karena ketidakmampuan suatu perusahaan memnuhi dan menyelesaikan kewajibannya yang bersifat jangka pendek terutama kewajiban likuiditas.

 

Risiko yang bersifat jangka panjang ( Long term risk )

Ketidakmampuan perusahaan menyelesaikan berbagai kewajibannya yang bersifat jangka panjang, seperti kegagalan untuk menyelesaikan utang perusahaan yang bersifat jangka panjang dan juga kemampuan untuk menyelesaikan proyek hingga tuntas.

 

CREDIT RISK MANAGEMENT ( CRM)

  • Tanggung Jawab :
  1. Mengendalikan risiko kredit.
  2. Mengelola dan menyelesaikan kredit yang bermasalah.
  3. Menetapkan suatu sistem ukuran penilaian serta alat analisi yang bisa atau layak digunakan.

 

RELATIONSHIP MANAGEMENT

  • Tanggung Jawab :
  1. Pada saat menemukan adanya kredit yang bermasalah maka memindahkan pengelolaannya ke bagian CRM untuk diselesaikan.
  2. Berfungsi dalam mempertanggungjawabkan kelanjutan bisnis/ usaha perbankan.
  3. Berkoordinasi dengan pihak CRM dalam memutuskan berbagai persoalan kredit.

 

Komite Kredit

Tugasnya :

  1. Meneliti dan menilai permohonan kredit baru yang berjumlah besar.
  2. Meneliti dan menilai permohonan perpanjangan kredit serta alasannya.
  3. Meneliti dan menilai semua kredit yang mengalami kemacetan untuk mengetahui dan menentukan penyebabnya.
  4. Meneliti apakah semua pemberian kredit telah sesuai dengan kebijakan pengkreditan bank ybs.
  5. Memeriksa kelengkapan dokumen-dokumen kredit.
  6. Memeriksa konsistensi perlakuan terhadap permohonan kredit.

 

Perjanjian Kredit ( Agreement)

Menurut pasal 1313 KUH Perdata :

Perjanjian ( Agreement ) adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih.

Kredit adalah penyediaan uang atau tagihan-tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga.

Perjanjian Kredit adalah suatu ikatan diantara kedua belah pihak yang disetujui dan ditandatangani dimana itu selanjutnya menjadi hukum bagi kedua belah pihak dengan menyebutkan ketentuan-ketentuan yang jelas mencakup penjelasan hak dan kewajiban kreditur dan debitur seperti jangka waktu, tingkat bunga, agunan dan sangsi-sangsi.

 

Resiko kredit bagi investor :

 

Surplus Finansial (Investor) — > Bank < — Defisit Finansial (Debitur)

 

Investor akan mengalami keterlambatan penerimaan keuntungan dalam bentuk bunga (Capital gain) karena perbankan sedang mengalami kesulitan keuangan.

Bagi pemegang obligasi permasalahan menjadi lebih besar pada saat emiten sudah berada dalam kondisi bangkrut.

Keterlambatan penerimaan keuntungan menyebabkan permasalahan dengan pihak eksternal seperti jika pihak pemegang obligasi dan deposito melakukan pembelian secara utang.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

RISIKO PASAR

Definisi Risiko Pasar

Risiko pasar merupakan kondisi yang dialami oleh suatu perusahaan yang disebabkan oleh perubahan kondisi dan situasi pasar di luar dari kendali perusahaan.

Risiko pasar sering disebut juga Risiko menyeluruh, karena sifat umumnya adalah bersifat menyeluruh dan dialami oleh seluruh perusahaan.

 

Bentuk Risiko Pasar

  1. 1.      General market risk (Risiko pasar secara umum ) :

Risiko ini dialami oleh seluruh perusahaan yang disebabkan oleh suatu kebijakan yang dilakukan oleh lembaga terkait yang mana kebijakan tersebut mampu memberi pengaruh bagi seluruh sektor bisnis.

  1. 2.      Specific Market Risk (Risiko pasar secara spesifik/Khusus)

Adalah suatu bentuk risiko yang hanya dialami secara khusus pada sektor atau sebagian bisnis saja tanpa bersifat menyeluruh.

 

Kategori yang masuk general market risk

  1. 1.      Foreign exchange risk (FER) (Resiko Valuta Asing)

Secara umum dalam ilmu keuangan dikenal dua bentuk pasar yaitu pasar modal (capital market) dan pasar uang (money market).

Foreign exchange risk merupakan bagian dari pasar uang.

Foreign exchange (valas) ini berangkat dari diterapkannya sistem floating exchange rate system pada tahin 1970an.

 

  • Pada pasar valas ini dapat dikategorikan dua tipe mata uang:
  1. 1.      Hard Currencies (mata uang keras)

Mencakup mata uang yang berasal dari negara-negara yang memiliki tingkat kestabilan moneter tinggi, atau negara maju secara ekonomi dan sering sebagai ukuran dalam mengkonversikan dengan mata uang negaranya. Seperti dollar amerika, yen jepang dan uero eropa.

  1. 2.      Soft Currencies ( Mata uang lembut)

Adalah jenis mata uang yang diterbitkan oleh suatu negara namun jarang dipakai sebagai standar acuan dalam transaksi bisnis internasional, dengan alasan dianggap belum memiliki nilai kekayaan.

  • Pasar keuangan sangat bebas dari berbagai intervens, karena :
  1. Berbagai pihak mudah mengakses seluruh data dan informasi tentang keuangan dan non keuangan.
  2. Berbagai investor dari seluruh dunia ikut bermain valas.
  3. Semua yang terlibat didalamnya tidak pernah tau dimana titik keseimbangannya.
  4. Setiap pihak memiliki data dan informasi untuk memprediksi apa yang terjadi kemudian.

 

 

2. Interest Rate Risk

  Risiko suku bunga adalah risiko yang dialami akibat dari perubahan suku bunga yang terjadi di pasaran yang mampu memberi pengaruh pada perusahaan.

  1. 3.    Commodity Position Risk (Resiko perubahan nilai komoditi)

Adalah situasi dan kondisi dimana terjadinya kerugian akibat perubahan harga barang komoditi di pasar yang disebabkan oleh faktor-faktor tertentu, dimana kondisi ini semakin parah saat barang komoditi tersebut telah terikat kontrak dalam suatu kontrak perjanjian serta informasi tersebut telah sampai ke pasar.

  1. 4.      Equity Position Risk ( Risiko perubahan Kekayaan)

Adalah suatu kondisi dimana kekayaan perusahaan mengalami perubahan dari biasanya sehingga perubahan tersebut memberi dampak pada keuntungan dan kerugian perusahaan.

  1. 5.      Political Risk

Stabilitas politik suatu negara sangat penting bagi pembangunan negara tersebut.

Untuk menciptakan suatu stabilitas politik yang baik adalah dengan cara membangun usaha yang sinergi antara masyarakat, pemerintah dan dunia usaha.

 

Hubungan FER dengan Perbankan

Ada beberapa faktor yang menyebabkan perbankan mengalami FER:

a)      Masih lemahnya independensi perbankan dalam permasalahan-permasalahan FER baik secara finansial dan non finansial.

b)      Lemahnya perangkat dan aturan perbankan dalam konsep risk management banking.

c)      Masih saja terjadi pemberian kredit dalam bentuk mata uang asing tapi kurang memiliki dasar analisis yang kaut.

d)     Penerimaan deposito dalam mata uang asing.

e)      Masih ada saja perlakuan khusus pada nasabah tertentu.

 

Faktor pengaruh mempengaruhi gejolak harga di pasar :

  1. Faktor fundamental ekonomi.
  2. Adanya peristiwa besar ekonomi maupun politik.
  3. Campur tangan pemangku kebijakan.
  4. Perimbangan kekuatan permintaan dan penawaran.
  5. Likuiditas pasar.

 

 

 

RISIKO SUKU BUNGA

Risiko suku bunga adalah risiko yang dialami akibat perubahan suku bunga yang terjadi di pasaran yang mampu memberi pengaruh pada perusahaan.

 

Faktor penyebab perubahan suku bunga domestik

Ada 3 faktor yang mempengaruhi suku bunga domestik suatu negara :

  1. Kondisi ekonomi global.
  2. Stabilitas ekonomi dalam negeri.
  3. Stabilitas sosial dan politik dalam dan luar negeri.

 

Resiko perubahan suku bunga dan permintaan uang :

  • Jika suku bunga , maka publik akan membelanjakan dananya untuk membeli aset yang menguntungkan.
  • Jika suku bunga turun, publik akan mengambil dananya di bank dan diinvestasikan untuk usaha.
  • Jika suku bunga naik maka publik cenderung menyimpan uangnya di bank karena aman.
  • Dari segi pemerintah menaikkan suku bunga kredit adalah sebagai antisipasi kredit macet.

Resiko Carry Trade

Resiko Carry Trade adalah bentuk perilaku investor dalam melakukan investasi dengan cara meminjam dana dari suatu negara yang memiliki tingkat suku bunga rendah dan selanjutnya membawa dana tersebut untuk ditanamkan pada negara yang memiliki tingkat suku bunga tinggi.

Jika suku bunga negara tujuan itu kembali normal/rendah, maka dana ditarik kembali.

 

Manajemen Risiko pada suku bunga obligasi:

  • Jika kondisi suku bunga obligasi stabil, masyarakat cenderung memilih obligasi.
  • Penerimaan bunganya tetap.
  • Pemilik obligasi biasanya yang memiliki uang lebih dan menginginkan keamanan berinvestasi.

 

Dampak Perusahaan suku bunga bagi perusahaan :

  • Perubahan suku bunga bisa menyebakan perusahaan menghadapi dua tipe risiko yaitu:
  • Risiko perubahan pendapatan : pendapatan bersih ( hasil investasi dikurangi biaya) berubah yaitu berkurang dari yang diharapkan.
  • Risiko perubahan nilai pasar berubah karena perubahan tingkat bunga, yaitu berubah karena lebih kecil (turun nilainya).

Risiko pada suku bunga dan saham :

  • Pada saat suku bunga mengalami kenaikan dan harga saham di pasar mengalami penurunan, maka investor cenderung memindahkan dananya dari saham ke deposito.
  • Pada saat kondisi pasar saham sedang menghangat, maka akan terjadi kebalikan dari hal diatas, dengan alasan keuntungan bermain saham lebih tinggi.
  • Investor adalah mereka yang memiliki karakteristik penghindar risiko dan menyukai keuntungan yang berkelanjutan.

 

Suku bunga dan jangka waktu obligasi

  • Semakin lama jangka waktu obligasi, semakin tinggi bunganya.
  • Konsep nilai waktu uang.
  • Adanya inflasi.

RISIKO PASAR (Market Risk)

Definisi Risiko Pasar

            Risiko pasar merupakan kondisi yang dialami oleh suatu perusahaan yang disebabkan oleh perubahan kondisi dan situasi pasar di luar dari kendali perusahaan.

Risiko pasar sering disebut juga Risiko menyeluruh, karena sifat umumnya adalah bersifat menyeluruh dan dialami oleh seluruh perusahaan.

Pengertian Risiko pasar adalah kerugian pada posisi neraca dan rekening administratif termasuk transaksi derivatif akibat perubahan keseluruhan pada kondisi pasar. Risiko ini dapat bersumber dari trading-book maupun banking book bank.

Risiko pasar dari trading book (Traded market risk) adalah risiko dari suatu kerugian nilai investasi akibat aktivitas trading (melakukan pembelian dan penjualan instrumen keuangan secara terus menerus) di pasar dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan. Hal ini timbul sebagai akibat dari tindakan bank yang secara sengaja  membuat suatu posisi yang berisiko dengan harapan untuk mendapatkan keuntungan dari posisi risiko yang telah diambilnya. (high risk high return).

Berbeda dengan Traded market risk,  risiko pada banking book merupakan konsekwensi alamiah akibat sifat bisnis bank yang dilakukan dengan nasabahnya. Umumnya, bank mempunyai struktur dana yang sifatnya jangka pendek / short funding karena kredit yang diberikan umumnya berjangka waktu lebih lama dari simpanan dana nasabah.

 

Bentuk Risiko Pasar

  1. 3.      General market risk (Risiko pasar secara umum ) :

Risiko ini dialami oleh seluruh perusahaan yang disebabkan oleh suatu kebijakan yang dilakukan oleh lembaga terkait yang mana kebijakan tersebut mampu memberi pengaruh bagi seluruh sektor bisnis.

  1. 4.      Specific Market Risk (Risiko pasar secara spesifik/Khusus)

Adalah suatu bentuk risiko yang hanya dialami secara khusus pada sektor atau sebagian bisnis saja tanpa bersifat menyeluruh.

 

Kategori yang masuk general market risk :

  1. 2.      Foreign exchange risk (FER) (Resiko Valuta Asing)

Secara umum dalam ilmu keuangan dikenal dua bentuk pasar yaitu pasar modal (capital market) dan pasar uang (money market).

Foreign exchange risk merupakan bagian dari pasar uang.

Foreign exchange (valas) ini berangkat dari diterapkannya sistem floating exchange rate system pada tahin 1970an.

 

  • Pada pasar valas ini dapat dikategorikan dua tipe mata uang:
  1. 6.      Hard Currencies (mata uang keras)

Mencakup mata uang yang berasal dari negara-negara yang memiliki tingkat kestabilan moneter tinggi, atau negara maju secara ekonomi dan sering sebagai ukuran dalam mengkonversikan dengan mata uang negaranya. Seperti dollar amerika, yen jepang dan uero eropa.

  1. 7.      Soft Currencies ( Mata uang lembut)

Adalah jenis mata uang yang diterbitkan oleh suatu negara namun jarang dipakai sebagai standar acuan dalam transaksi bisnis internasional, dengan alasan dianggap belum memiliki nilai kekayaan.

  • Pasar keuangan sangat bebas dari berbagai intervens, karena :
  1. Berbagai pihak mudah mengakses seluruh data dan informasi tentang keuangan dan non keuangan.
  2. Berbagai investor dari seluruh dunia ikut bermain valas.
  3. Semua yang terlibat didalamnya tidak pernah tau dimana titik keseimbangannya.
  4. Setiap pihak memiliki data dan informasi untuk memprediksi apa yang terjadi kemudian.

 

2. Interest Rate Risk

  Risiko suku bunga adalah risiko yang dialami akibat dari perubahan suku bunga yang terjadi di pasaran yang mampu memberi pengaruh pada perusahaan.

 

  1. 8.    Commodity Position Risk (Resiko perubahan nilai komoditi)

Adalah situasi dan kondisi dimana terjadinya kerugian akibat perubahan harga barang komoditi di pasar yang disebabkan oleh faktor-faktor tertentu, dimana kondisi ini semakin parah saat barang komoditi tersebut telah terikat kontrak dalam suatu kontrak perjanjian serta informasi tersebut telah sampai ke pasar.

 

  1. 9.      Equity Position Risk ( Risiko perubahan Kekayaan)

Adalah suatu kondisi dimana kekayaan perusahaan mengalami perubahan dari biasanya sehingga perubahan tersebut memberi dampak pada keuntungan dan kerugian perusahaan.

 

  1. 10.  Political Risk

Stabilitas politik suatu negara sangat penting bagi pembangunan negara tersebut.

Untuk menciptakan suatu stabilitas politik yang baik adalah dengan cara membangun usaha yang sinergi antara masyarakat, pemerintah dan dunia usaha.

 

Hubungan FER dengan Perbankan

Ada beberapa faktor yang menyebabkan perbankan mengalami FER:

f)       Masih lemahnya independensi perbankan dalam permasalahan-permasalahan FER baik secara finansial dan non finansial.

g)      Lemahnya perangkat dan aturan perbankan dalam konsep risk management banking.

h)      Masih saja terjadi pemberian kredit dalam bentuk mata uang asing tapi kurang memiliki dasar analisis yang kaut.

i)        Penerimaan deposito dalam mata uang asing.

j)        Masih ada saja perlakuan khusus pada nasabah tertentu.

 

Faktor pengaruh mempengaruhi gejolak harga di pasar :

  1. Faktor fundamental ekonomi.
  2. Adanya peristiwa besar ekonomi maupun politik.
  3. Campur tangan pemangku kebijakan.
  4. Perimbangan kekuatan permintaan dan penawaran.
  5. Likuiditas pasar.

Risiko pasar terdiri dari empat jenis yaitu :

Risiko Suku Bunga – Risiko kerugian pada posisi keuangan (neraca dan rekening administratif) karena perubahan suku bunga. Risiko Suku Bunga pada Banking Book merupakan bentuk risiko pasar paling dominan di perbankan Indonesia yang meliputi repricing risk, yield curve risk, basis risk, options risk. Selain banking book, Bank wajib pula mengelola risiko harga yang disebabkan oleh eksposur trading book (tanpa memandang jenis risiko) karena unrealized Mark to Market (MTM) gain/loss berpengaruh secara langsung pada pendapatan dan atau regulatory capital.

Risiko Nilai Tukar – Risiko kerugian pada posisi keuangan (neraca dan rekening administratif) akibat perubahan nilai tukar valuta asing, termasuk perubahan harga emas dimana.

Risiko Ekuitas – Risiko kerugian pada posisi keuangan (neraca dan rekening administratif) akibat perubahan nilai ekuitas, dan mencakup seluruh posisi ekuitas pada kategori AFS (available for sale).

Risiko Komoditas – Risiko kerugian pada posisi keuangan (neraca dan rekening administratif) akibat perubahan nilai komoditas. Risiko translasi nilai tukar atas seluruh posisi valas (aset dan kewajiban) pada neraca, baik trading maupun banking book

 

 

 

Berikut ini disajikan diagram penilaian risiko pasar sebagai berikut :

 

Sebagaimana mana risiko kredit, penilaian risiko pasar juga dilakukan berdasarkan dua komponen yaitu risiko pasar inherent dan kualitas sistem pengendalian (RCS – Risk Control System) yang menghasilkan net risk atau risiko komposit.

Penilaian risiko pasar inherent terdiri dua faktor utama yaitu faktor kuantitatif dan kualitatif. Berikut ini contoh parameter penilaian risiko pasar inheren :

Indikator Kualitatif :

 

 

 

Faktor Kualitatif :

Karakteristik risiko pasar :

-          Jenis aktivitas trading, proprietary trading, market making, brokering

-          Jenis instrumen trading : fixed income, derivatif, valas

-          Nasabah utama : perusahaan besar, bank, dana pensiun, individual

Trend :

-          Pertumbuhan aset yang diperdagangkan

-          Pertumbuhan instrumen derivatif

-          Pertumbuhan aset jangka panjang dengan suku bunga tetap.

Untuk penilaian kualitas penerapan manajemen risiko atau Risk Control System, tetap berpedoman kepada empat prinsip utama sabagaimana dalam risiko kredit. Secara konkret hasil penilaian risiko pasar digambarkan sebagai berikut :

 

Risiko pasar didefinisikan sebagai risiko kerugian pada posisi neraca dan rekening administratif yang diakibatkan oleh perubahan / pergerakan variabel pasar al. tingkat suku bunga, kurs valuta asing, saham dan komoditi.

Exposure kerugian akibat risiko harga pasar dapat disebabkan oleh:

  • Risiko pasar dari trading book yang timbul akibat bank aktif dalam kegiatan trading transaksi keuangan seperti obligasi yang nilainya dipengaruhi oleh perubahan harga pasar seperti suku bunga.
  • Risiko Suku bunga dari banking book dimana bank mempunyai terekspos risiko fluktuasi suku bunga akibat struktur bisnis bank dalam aktivitas seperti deposito dan pinjaman yang diberikan.

Trading book

Traded market risk (risiko pasar dari trading book) adalah risiko dari suatu kerugian nilai investasi akibat aktivitas trading (melakukan pembelian dan penjualan instrumen keuangan secara terus menerus) di pasar dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan.

Traded market risk muncul sebagai akibat dari tindakan bank yang secara sengaja  membuat suatu posisi yang berisiko dengan harapan untuk mendapatkan keuntungan dari posisi risiko yang telah diambilnya. (high risk high return)

Risiko suku bunga Banking Book

Berbeda dengan Traded market risk,  risiko pada banking book merupakan konsekwensi alamiah akibat sifat bisnis bank yang dilakukan dengan nasabahnya. Umumnya, bank mempunyai struktur dana yang sifatnya jangka pendek / short funding karena kredit yang diberikan umumnya berjangka waktu lebih lama dari simpanan dana nasabah.

Untuk menghindari hal-hal di luar yang diprediksi, diperlukan penetapan tingkat bunga yang matched antara suku bunga pinjaman dan suku bunga simpanan (proses ini disebut sebagai hedging), untuk melindungi nilai dari simpanan dan pinjaman.

Terdapat beberapa cara bank dapat melakukan hedging, al. merubah suku bunga pinjaman berdasarkan tingkat diskonto bank sentral atau menetapkan suku bunga simpanan yang selaras dengan suku bunga pinjaman (selama periode pinjaman).

Amendment Risiko Pasar

Sebagai respon atas kritik kurang sensitifnya Basel I terhadap risiko, bulan Januari 1996  Komite Basel mempublikasikan  “Amendment to the Capital Accord to incorporate Market Risks” bulan Januari 1996 yang dikenal dengan sebutan the Market Risk Amendment.

The Market Risk Amendment merupakan finasilisasi dari proses yang telah dimulai sejak the Committee mengeluarkan publikasi “The Supervisory Treatment of Market Risks”.

Penggunaan model internal yang telah dilakukan oleh beberapa bank internasional mendorong Basel Committee pada tahun 1994 untuk menerima penggunaan model internal, yang disebut metode Value at Risk (VaR). Metode VaR mengukur perkiraan besarnya kerugian maksimum dari portofolio bank akibat risiko pasar dalam waktu tertentu (holding period / VAR Horizon) dan dengan tingkat kepercayaan tertentu (confidence level).

Dengan VAR, laporan risiko bank mungkin akan disajikan sbb : “Portofolio trading mempunyai DVaR sebesar USD 15m dengan tingkat keyakinan sebesar 95 %”.

Confidence level merepresentasikan tingkat kemungkinan terjadinya kerugian di atas nilai 95% DVaR adalah 5%. Dengan ungkapan yang sederhana DVaR (Daily VAR) adalah “Dalam periode satu hari kerja terdapat kemungkinan sebesar 5 % kerugian dari portofolio melebihi USD 15m.

Namun demikian, nilai VaR tidaklah memberikan estimasi seberapa besar kerugian aktual yang dapat terjadi di atas nilai VaR tersebut, yang dalam contoh di atas tidak terdapat indikasi seberapa besar kerugian melebihi USD 15m dapat terjadi. Walaupun probabilitas ini kelihatannya kecil, bila asumsikan bahwa hari kerja dalam satu tahun adalah 240 hari, dapat diartikan bahwa dalam satu tahun diperkirakan ada 12 hari (240 x 5%) dimana kerugian portofolio dapat melebihi USD 15m.

Market Risk Amendment, yang memperkenankan penggunaan Value at Risk (VAR) model, merupakan regulasi pertama yang berbasis risiko.

Sifat Dasar Risiko Pasar (The Nature of Market Risk)

Risiko pasar terdiri dari:

  1. Risiko khusus (specific risk) adalah risiko yang timbul dari pergerakan harga suatu surat berharga karena faktor keamanan atau faktor penerbitnya. Sebagai contoh penurunan harga obligasi karena ‘credit rating’ dari penerbit obligasi mengalami penurunan. Informasi ini akan secara khusus berpengaruh terhadap penerbit obligasi dan bukan mempengaruhi harga obligasi secara umum.
  2. Risiko pasar umum (general market risk) adalah risiko yang timbul dari pergerakan harga-harga instrumen keuangan secara umum di pasar. Contohnya, kebijakan penurunan suku bunga oleh pemerintah menyebabkan penurunan suku bunga di pasar sehingga mempengaruhi harga dari seluruh instrumen keuangan yang terkait dengan pergerakan suku bunga.  Risiko Pasar Umum (General market risk) dikelompokkan menjadi 4 jenis, yaitu : Risiko suku bunga, Risiko posisi ekuit, Risiko nilai tukar dan Risiko komoditas.

 

 

Kesimpulan

Risiko pasar adalah kerugian pada posisi neraca dan rekening administratif termasuk transaksi derivatif akibat perubahan keseluruhan pada kondisi pasar. Risiko ini dapat bersumber dari trading-book maupun banking book bank.

Risiko pasar didefinisikan sebagai risiko kerugian pada posisi neraca dan rekening administratif yang diakibatkan oleh perubahan / pergerakan variabel pasar al. tingkat suku bunga, kurs valuta asing, saham dan komoditi.

kebijakan penurunan suku bunga oleh pemerintah menyebabkan penurunan suku bunga di pasar sehingga mempengaruhi harga dari seluruh instrumen keuangan yang terkait dengan pergerakan suku bunga.  Risiko Pasar Umum (General market risk) dikelompokkan menjadi 4 jenis, yaitu : Risiko suku bunga, Risiko posisi ekuit, Risiko nilai tukar dan Risiko komoditas.

 

Sumber :

  1. Coyle, B. Measuring Credit Risk. United Kingdom: CIB Publishing, 2000.
  2. Fisher, S. “Risk Management in Top Priority in Bank Restructuring“. Dikutip dari naskah presentasi tentang “Building World Class Risk Management.Capabilities in Indonesia: Overview Risk Management.” Jakarta: The Boston Consulting Group, 2001.

 

  1. BankirNews.Com
  2. ArtikelEkonomi.Com

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PENGENDALIAN DAN PENGELOLAAN

RISIKO SUKU BUNGA

 

PENGENDALIAN DAN PENGELOLAAN

RISIKO SUKU BUNGA

Dalam rangka mengantisipasi terjadinya risiko suku bunga, upaya-upaya yang dilakukan antara lain mengelompokkan aktiva dan pasiva berdasarkan tingkat kepekaannya dan menyusun perkiraan tingkat suku bunga melalui berbagai metode sehingga didapat perkiraan yang lebih baik. Selain itu juga tanggap dalam menghadapi perubahan yang potensial akan merugikan bank.

RISIKO SUKU BUNGA

alam berinvestasi, investor memiliki tujuan untuk memaksimalkan returnnya tanpa melupakan faktor risiko investor yang harus dihadapinya. Return merupakan salah satu faktor yang memotivasi investor berinvestasi dan juga merupakan imbalan atas keberanian investor menanggung risiko atas investasi yang dilakukannya. Sedangkan risiko merupakan kemungkinan perbedaan antara return yang akan diterima dengan return yang diharapkan. Semakin besar kemungkinan perbedaannya, maka semakin besar pula risiko investasi tersebut. Terdapat beberapa sumber risiko yang bisa mempengaruhi besarnya risiko suatu investasi, diantaranya adalah :
1. Risiko suku bunga
Perubahan suku bunga bisa mempengaruhi variabilitas return suatu investasi. Perubahan suku bunga akan mempengaruhi harga saham secara terbalik, yang berarti jika suku bunga meningkat, maka harga saham akan turun. Demikian pula sebaliknya, apabila suku bunga menurun, maka harga saham akan meningkat.

2. Risiko pasar
Yang dimaksud risiko pasar adalah fluktuasi pasar yang secara keseluruhan mempengaruhi variabilitas return suatu investasi. Perubahan ini dapat disebabkan oleh banyak faktor, seperti munculnya resesi ekonomi, kerusuhan, maupun perubahan politik.

3. Risiko inflasi
Inflasi yang meningkat akan mengurangi kekuatan daya beli rupiah yang telah diinvestasikan. Maka dari itu, risiko ini juga bisa disebut sebagai risiko daya beli.

4. Risiko bisnis
Risiko bisnis merupakan risiko yang terdapat dalam menjalankan bisnis suatu jenis industri. Misalnya perusahaan pakaian jadi yang bergerak di bidang industri tekstil, akan sangat dipengaruhi oleh karakteristik industri tekstil itu sendiri.

5. Risiko finansial
Risiko ini berkaitan dengan keputusan perusahaan untuk menggunakan hutang dalam pembiayaan modalnya. Semakin besar hutang yang digunakan, maka semakin besar pula risiko yang akan ditanggung.
6. Risiko likuiditas
Risiko ini berkaitan dengan kecepatan suatu sekuritas yang diterbitkan perusahaan bisa diperdagangkan di pasar sekunder. Semakin cepat suatu sekuritas diperdagangkan, maka semakin likuid sekuritas tersebut. Dan demikian pula sebaliknya.

7. Risiko nilai tukar mata uang (valas)
Risiko ini berkaitan dengan fluktuasi nilai tukar mata uang domestik dengan nilai mata uang negara lainnya. Risiko ini juga dikenal dengan nama currency risk atau exchange rate risk.

8. Risiko negara
Risiko ini juga disebut sebagai risiko politik, karena sangat berkaitan dengan kondisi perpolitikan suatu negara. Bagi perusahaan yang beroperasi di luar negeri, maka stabilitas ekonomi dan politik negara bersangkutan akan sangat perlu diperhatikan guna menghindari risiko negara yang terlalu tinggi.

Selain risiko di atas tersebut, dalam manajemen investasi dikenal pembagian risiko dalam dua jenis, yaitu risiko sistematis dan risiko unsistematis. Risiko sistematis merupakan risiko yang berkaitan dengan perubahan yang terjadi di pasar secara keseluruhan. Sedangkan risiko unsistematis merupakan risiko yang tidak berkaitan dengan perubahan pasar secara keseluruhan.

Pengertian Suku Bunga

Pengertian dari Risiko suku bunga adalah risiko yang timbul karena nilai relatif aktiva berbunga, seperti pinjaman atau obligasi, akan memburuk karena peningkatan suku bunga. Secara umum, jika suku bunga meningkat, harga obligasi berbunga tetap akan turun, demikian juga sebaliknya. Risiko suku bunga umumnya diukur dengan jangka waktu obligasi, teknik paling tua yang sekarang digunakan untuk mengelola risiko suku bunga.

Risiko suku bunga merupakan exposur kondisi keuangan suatu bank terhadap pegerakan suku bunga yang merugikan. Menerima risiko tersebut merupakan bagian yang normal dari bisnis bank, dan dapat merupakan bagian yang penting dalam menciptakan keuntungan dan peningkatan nilai saham. Perubahan dalam suku bunga berakibat berubahnya pendapatan bunga bersih dan tingkat pendapatan dan biaya operasional suatu bank yang sensitif terhadap perubahan suku bunga . Perubahan tingkat suku bunga juga berakibat pada underlying value instrument assets, liability dan Off Balance Sheet (OBF) karena present value dari future cash flow (bahkan cash flow –nya sendiri) berubah karena suku bunga berubah. Sesuai dengan itu maka agar proses manajemen suku bunga efektif, perlu dijaga supaya suku bunga tetap berada pada prudent level untuk keamanan dan kesehatan (soundness) bank.

Terdapat 2 (dua) perspective paling umum untuk melakukan asesmen terhadap risiko suku bunga bank ; yaitu :

- the earning perspective, yang difokuskan pada dampak perubahan suku bunga pada pendapatan bank yang akan diterima dalam jangka pendek,

- the economic value perspective, yang difokuskan pada nilai cash flow suatu bank .

Sumber risiko suku bunga

Sebagai ‘finacial intermediaries ‘ bank menghadapi risiko suku bunga dengan berbagai cara. Pembahasan yang utama dan paling sering, bentuk risiko suku bunga timbul dari perbedaan waktu dari jatuh tempo (maturity) dan repricing (penetapan ulang suku bunga) terhadap suku bunga mengambang (floating rate) dari assets, liabilities dan posisi Off Balance Sheet(OBS ). Sementara repricing terhadap ketidak sesuaian jatuh tempo (mismatch) merupakan fundamen dari bisnis bank, dapat meng-expose pendapatan dan underlying nilai ekonomi (economic value) terhadap fluktuasi yang tidak diperkirakan sebagai perbedaan suku bunga. Sebagai contoh, apabila bank mendanai suatu pinjaman jangka panjang ber- bunga tetap, dengan suatu deposit berjangka pendek, bank bisa menghadapi suatu penurunan baik pada future income yang berasal dari posisi pinjaman yang diberikan serta underlying value dari pinjaman tersebut, apabila terjadi kenaikan suku bunga . Penurunan tersebut terjadi karena cash flow dari pinjaman adalah tetap selama masa laku kredit, sedangkan cash flow yang dibayar pada deposit bersifat variable dan meningkat setelah jatuh temponya.

Repricing mismatches, juga dapat meng-expose perubahan slope dan bentuk pada kurva pendapatan (yield curve) . Risiko yield curve timbul apabila terdapat pergeseran yang tidak diperkirakan pada yield curve yang mengakibatkan dampak yang merugikan pada pendapatan bank atau underlying economic value. Sebagai contoh, underlying economic value dari suatu long position obligasi pemerintah berjangka waktu 10 tahun di hedge dengan suatu short position dari Government Notes berjangka waktu 5 tahun, dapat mengurangi secara tajam apabila yield curve tersebut curam (steepens), bahkan apabila posisi di hedge terhadap pergerakan parallel dari yield curve . Sumber risiko suku bunga lainnya yang penting, biasanya disebut sebagai basis risk , timbul dari hubungan yang tidak sempurna dalam penyesuaian tingkat bunga yang diperoleh dan dibayarkan dari instrument yang berbeda, namun dengan karakteristik repricing yang mirip. Apabila suku bunga berubah, maka perbedaan ini dapat menaikkan perubahan yang tidak diperhitungkan dalam cash flow dan spread pendapatan antara instrument instrumen asset, liabilities dan OBS dari jatuh tempo yang sama atau frekuensi-frekuensi repricing. Sebagai contoh, suatu strategi pendanaan untuk pemberian kredit dengan jangka waktu 1 tahun dengan deposit 1 tahun dengan variable rate yang ditetapkan tiap bulan (repricing) berdasarkan LIBOR, menggambarkan bahwa institusi tersebut menghadapi risiko bahwa spread antara 2 (dua) index suku bunga dapat berubah tak terduga.

Tambahan dan peningkatan sumber risiko suku bunga yang penting, timbul dari opsi (option) yang diikatkan (embedded) pada banyak portofolio asset, liability dan OBS bank. Formalnya, sebuah opsi menyediakan kepada pemegang opsi, hak namun bukan kewajiban, untuk membeli (buy), menjual (sell) atau dengan cara yang sama memilih cash flow dari suatu instrument atau financial contract. Opsi dapat berupa instrumen yang berdiri sendiri (‘stand alone ‘) seperti ‘exchange traded option’ (opsi perdagangan/jual beli valuta) dan over the counter (OTC) contract, atau dapat juga diikaitkan dalam instrument-instrumen standar. Sementara bank bank menggunakan exchange traded dan opsi OTC baik dalam rekening perdagangan maupun dalam rekening non perdagangan, instrumen-instrumen yang terikat opsi yang umumnya lebih penting dalam kegiatan non-trading. Contoh dari instrument yang terikat opsi meliputi berbagai tipe obligasi dan notes (surat utang) dengan ‘call’ atau ‘put’ provision, pinjaman dengan memberi hak kepada peminjam untuk menyelesaikan hutangnya lebih cepat, dan berbagai tipe non maturity deposit instruments yang memberi hak kepada depositor untuk menarik dananya setiap waktu, sering tanpa sesuatu penalty atau denda. Apabila tidak dikelola dengan baik, maka pembayaran instruments yang mempunyai karakteristik yang tidak saling menopang (asymmetrical payoff) dengan syarat opsi dapat memberikan risiko yang signifikan khususnya kepada mereka yang menjual, karena opsi yang dipegang, secara explicit dan mengikat, umumnya dilaksanakan sepanjang menguntungkan bagi pemegang hak opsi dan tidak menguntungkan bagi penjual. Lebih lanjut suatu daftar yang semakin panjang dari hak opsi dapat mempengaruhi leverage (perputaran) dan dapat memperbesar pengaruh (baik posistif maupun negatif) dari posisi opsi pada kondisi keuangan perusahaan.

Akibat yang ditimbulkan risiko suku bunga.

Sebagaimana dikemukakan diatas, perubahan dalam suku bunga dapat mempunyai pengaruh yang tidak menguntungkan baik bagi pendapatan bank maupun nilai ekonomi nya (economic value) . Hal ini memberikan 2 (dua) perspective yang terpisah namun saling melengkapi dalam melakukan asesmen terhadap exposure risiko suku bunga bank.

Dalam mengukur exposure risiko sukubunga, lebih lanjut perlu diperhatikan 2 (dua) aspek ;

(a.) perlakuan (treatment) terhadap posisi-posisi dimana kebiasaan jatuh temponya berbeda dari jatuh tempo menurut kontrak, dan

(b) perlakuan dari posisi-posisi yang dinominasi oleh mata uang yang berbeda. Posisi-posisi seperti ‘tabungan’ (saving) atau giro / deposito jangka pendek (sight deposit) mungkin mempunyai jatuh tempo atau mungkin ‘open ended’ (tanpa jatuh tempo), namun dalam tiap kasus penabung atau deposan umumnya mempunyai opsi untuk melakukan penarikan setiap waktu. Bank mungkin memilih tidak merubah bunga terhadap deposit tersebut sesuai dengan perubahan bunga dipasar.
Faktor-faktor tersebut sesuai dengan pengukuran exposure risiko suku bunga, karena tidak hanya nilai dari posisi, melainkan waktu dari cash flow juga berubah ketika sukubunga bergejolak. Terkait dengan asset bank, pembayaran lebih awal terhadap kredit perumahan (mortgage) dan efek beragun asset juga menimbulkan ketidak pastian terhadap waktu dari cash flow pada posisi-posisi tersebut.

Pengukuran Risiko Suku Bunga :

a)Aset, kewajiban dan rekening administratif yang akan dilakuka marked to market dikelompokkan kedalam trading book sedangkan transaksi dan posisi yang tidak dilakukan marked to market dikelompokkan kedalam banking book.

b) Umumnya posisi banking book tersebut tidak ditujukan untuk memperoleh keuntungan jangka pendek, namun akan dipelihara sampai jatuh tempo (held to maturity), seperti surat-surat berharga atau obligasi pada portofolio investasi.

c) Proses marked to market merupakan salah satu teknik yang mencerminkan nilai aset, transaksi derivatif, dan instrumen keuangan lainnya sekaligus merupakan metode yang tepat untuk mengukur posisi risiko aset dan instrumen keuangan tersebut.

d) Penilaian marked to market wajib mengacu pada PBI No.5/12/PBI/2003 tanggal 17 Juli 2003 mengenai Kewajiban Penyediaan Modal Minimum Dengan Memperhitungkan Risiko Pasar (Market Risk). Kecukupan dan keakurasian proses marked to market harus diverifikasi oleh pihak yang independen dari satuan kerja operasional, dan memiliki kompetensi yang relevan, seperti Satuan Kerja Manajemen Risiko.

e)Bagi Bank yang mengembangkan model internal dalam rangka kebutuhan intern bank , adapat menggunakan value at risk (VAR) guna mengukur keruguan maksimum yang diperkirakan aakan timbul dari suatu posisi atau portofolio tertentu sebagai akibat perubahan indikator sukubunga di pasar (sukubunga referensi), pada suatu interval tertentu. Pengukuran dengan metode VAR dapat dilakukan dengan berbagai metode statistik seperti variance/covariance, historical simulation dan Monte Carlo simulation.

f) Dalam rangka mencegah terjadinya penyimpangan hasil statistik dan perilaku sukubunga , Bank harus menggnakan sumber data , figur dan kriteria yang dihasilkan sendiri untuk melakukan pengujian atau tidak didasarkan atas sumber data yang diperoleh dari pihak lain.

g) Dalam menilai eksposur risiko sukubunga yang melekat pada beberapa aktivitas fungsional, Banksekurang-kurangnya dapat mengukur beberapa parameter, antara lain :
(1) potential loss karena fluktuasi suku bunga
(2) volatilitas sukubunga per jangka waktu.

h) Apabila diperlukan , Bank dapat melakukan koreksi atau perbaikan kriteria dan proses pricing yang bertujuan untuk menilai risiko kredit (banking book) secara tepat dengan menyesuaikan selisih sukubunga yang diterapkan terhadap sukubunga referensi (pasar).

Resiko Suku Bunga

Beberapa para ahli menyimpulkan bahwa suku bunga adalah sebagai berikut :

Menurut Karl dan Fair (2001:635) suku bunga adalah pembayaran bunga tahunan dari suatu pinjaman, dalam bentuk persentase dari pinjaman yang diperoleh dari jumlah bunga yang diterima tiap tahun dibagi dengan jumlah pinjaman.
Pengertian suku bunga menurut Sunariyah (2004:80) adalah harga dari pinjaman. Suku bunga dinyatakan sebagai persentase uang pokok per unit waktu. Bunga merupakan suatu ukuran harga sumber daya yang digunakan oleh debitur yang harus dibayarkan kepada kreditur.
Adapun fungsi suku bunga menurut Sunariyah (2004:81) adalah :

a. Sebagai daya tarik bagi para penabung yang mempunyai dana lebih untuk diinvestasikan.

b. Suku bunga dapat digunakan sebagai alat moneter dalam rangka mengendalikan penawaran dan permintaan uang yang beredar dalam suatu perekonomian. Misalnya, pemerintah mendukung pertumbuhan suatu sektor industri tertentu apabila perusahaan-perusahaan dari industri tersebut akan meminjam dana. Maka pemerintah memberi tingkat bunga yang lebih rendah dibandingkan sektor lain.

c. Pemerintah dapat memanfaatkan suku bunga untuk mengontrol jumlah uang beredar. Ini berarti, pemerintah dapat mengatur sirkulasi uang dalam suatu perekonomian.
Suku bunga itu sendiri ditentukan oleh dua kekuatan, yaitu : penawaran tabungan dan permintaan investasi modal (terutama dari sektor bisnis). Tabungan adalah selisih antara pendapatan dan konsumsi. Bunga pada dasarnya berperan sebagai pendorong utama agar masyarakat bersedia menabung. Jumlah tabungan akan ditentukan oleh tinggi rendahnya tingkat bunga. Semakin tinggi suku bunga, akan semakin tinggi pula minat masyarakat untuk menabung, dan sebaliknya.
Tinggi rendahnya penawaran dana investasi ditentukan oleh tinggi rendahnya suku bunga tabungan masyarakat.
Menurut Lipsey, Ragan, dan Courant (1997 : 471) suku bunga adalah harga yang dibayarkan untuk satuan mata uang yang dipinjam pada periode waktu tertentu.
Menurut Lipsey, Ragan, dan Courant (1997 : 99-100) suku bunga dapat dibedakan menjadi dua yaitu suku bunga nominal dan suku bunga riil. Dimana suku bunga nominal adalah rasio antara jumlah uang yang dibayarkan kembali dengan jumlah uang yang dipinjam. Sedang suku bunga riil lebih menekankan pada rasio daya beli uang yang dibayarkan kembali terhadap daya beli uang yang dipinjam. Suku bunga riil adalah selisih antara suku bunga nominal dengan laju inflasi. Menurut Samuelson dan Nordhaus (1998) suku bunga adalah pembayaran yang dilakukan atas penggunaan sejumlah uang.

Menurut Nopirin (1992:176) fungsi tingkat bunga dalam perekonomian yaitu alokasi faktor produksi untuk menghasilkan barang dan jasa yang dipakai sekarang dan di kemudian hari.
Menurut Ramirez dan Khan (1999) ada dua jenis faktor yang menentukan nilai suku bunga, yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal meliputi pendapatan nasional, jumlah uang beredar, dan inflasi. Sedang faktor eksternal merupakan suku bunga luar negeri dan tingkat perubahan nilai valuta asing yang diduga.
Menurut Prasetiantono (2000) mengenai suku bunga adalah : jika suku bunga tinggi, otomatis orang akan lebih suka menyimpan dananya di bank karena ia dapat mengharapkan pengembalian yang menguntungkan. Dan pada posisi ini, permintaan masyarakat untuk memegang uang tunai menjadi lebih rendah karena mereka sibuk mengalokasikannya ke dalam bentuk portfolio perbankan (deposito dan tabungan). Seiring dengan berkurangnya jumlah uang beredar, gairah belanja pun menurun. Selanjutnya harga barang dan jasa umum akan cenderung stagnan, atau tidak terjadi dorongan inflasi. Sebaliknya jika suku bunga rendah, masyarakat cenderung tidak tertarik lagi untuk menyimpan uangnya di bank.
Beberapa aspek yang dapat menjelaskan fenomena tingginya suku bunga di Indonesia adalah tingginya suku bunga terkait dengan kinerja sektor perbankan yang berfungsi sebagai lembaga intermediasi (perantara), kebiasaan masyarakat untuk bergaul dan memanfaatkan berbagai jasa bank secara relatif masih belum cukup tinggi, dan sulit untuk menurunkan suku bunga perbankan bila laju inflasi selau tinggi ( Prasetiantono, 2000 : 99-101)

Jenis Suku Bunga

•       Bunga sederhana: adalah merupakan hasil dari pokok utang, suku bunga per periode, dan lamanya waktu peminjaman.

Rumusan bunga sederhana yaitu: c=pbw, dimana c (bunga sederhana) adalah merupakan hasil dari p (pokok utang), b (bunga), dan w (waktu).

•      Bunga berbunga atau disebut juga bunga majemuk : nilai pokok utang ini akan berubah terus setiap akhir suatu periode dengan penambahan perhitungan bunga .

Suku Bunga tetap dan mengambang

•       “Suku bunga tetap” adalah suku bunga pinjaman tersebut tidak berubah sepanjang masa kredit.

•      “Suku bunga mengambang” adalah suku bunga yang berubah-ubah selama masa kredit berlangsung dengan mengikuti suatu kurs referensi tertentu seperti misalnya LIBOR dimana cara perhitungannya dengan menggunakan sistim penambahan marjin terhadap kurs referensi.

Suku Bunga terendah sepanjang masa

Menurut dari penelitian, Suku Bunga pernah mengalami kontribusi yang sangat rendah.

Kendati banyak pihak mengeluhkan suku bunga kredit yang tidak kunjung turun, bankir justru menegaskan bahwa tingkat suku bunga kredit saat ini merupakan yang terendah sepanjang sejarah. “Suku bunga 10-13 persen itu paling rendah sejak Indonesia merdeka,” ujar Ketua Persatuan Bank Nasional (Perbanas) Sigit Pramono di Jakarta, Jumat (9/10).

Dia mengakui, suku bunga kredit di Indonesia memang masih terbilang tinggi bila dibandingkan dengan negara lain, seperti Singapura dan Malaysia.

Namun, menurutnya sejumlah negara tersebut mematok suku bunga depositonya dengan rendah, bahkan hampir mendekati nol persen. “Diperhitungkan juga, berapa mereka memberi bunga deposito. Sangat rendah. Di Jepang hampir nol. Kita kan tinggi bunga depositonya,” ujar Sigit yang juga menjabat sebagai Komisaris Independen BCA ini.
kompas

Suatu sistem pengendalian intern risiko suku bunga mencakup :

o Suatu lingkungan pengendalian yang kuat
o Suatu proses yang memadai untuk meng-identifikasi mengevaluasi risiko,
o Menetapkan aktivitas pengendalian seperti, kebijakan, prosedur dan methodologi,
o Sistem informasi yang memadai, dan
o Kaji ulang yang berkesinambungan terhadap kebijakan dan prosedur

Pengendalian Risiko Suku Bunga :

1. Pengendalian risiko dan tanggung jawab manajemen operasional atas posisi yang dikelola hingga jatuh waktu (banking book) harus ditetapkan dalam organisasi bank. Tanggung jawab tersebut antara lain meliputi : a) Rekonsiliasi posisi yang dikelola dan dicatat dalam sistem informasi manajemen.
b) Pengendalian terhadap akurasi profit and loss dan kepatuhan pada ketentuan dan standar akunting yang berlaku, terutama pengakuan diskon, pembukuan premium dan pengakuan secara akrual dari kupon.
c) Pengklasifikasian dan pembentukan provisi yang tepat sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

2. Untuk surat berharga dan obligasi yang terdaftar atau diperdagangkan di Pasar Modal, Bank harus menerapkan proses pengendalian intern yang bertujuan untuk memantau selisih kredit (credit spread) dari surat berharga dan Obligasi tersebut dengan membandingkan hasil (yield) dari posisi portofolio tersebut dengan Obligasi Pemerintah.

3. Dengan mengabaikan kriteria ketentuan yang mengatur pembentukan provisi apabila Bank menilai bahwa credit spread mengalami pelebaran maka Bank harus melakukan analisis mengenai kondisi dan prospek penerbit surat berharga dan obligasi. Apabila hasil analisis dan sentimen pasar menunjukkan kesimpulan bahwa kegagalan penerbit semakin meningkat maka Bank harus segera membentuk provisi dalam perspektif kehati-hatian.

4. Apabila kemungkinan terjadi kegagalan memelihara eksposur risiko sukubunga teridentifikasi semakin meningkat, Bank sekurang-kurangnya harus:
a) Menghentikan pengakuan diskon.
b) Menerapkan pemantauan secara ketat terhadap surat berharga dan obligasi tersebut serta mengambil tindakan yang diperlukan untuk mengurangi kerugian.

5. Terhadap yang tidak terdaftar atau diperdagangkan di pasar, Bank harus melakukan review secara berkala terhadap kondisi, kredibilitas dan kemampuan membayar kembali penerbit surat berharga dan obligasi. Review dilakukan dengan menghimpun dan menganalisis laporan keuangan , proyeksi arus kas dan seluruh dokumen yang relevan tentang penerbit. Review secara berkala terhadap surat berharga dan obligasi tersebut harus didokumentasikan dan dilakukan sekurang-kurangnya setiap 6 (enam) bulan.

6. Apabila Bank melakukan kontrak transaksi derivatif, seperti interest rate swaps maka dalam rangka tujuan lindung nilai dan penerapan strategi ALMA, Bank harus memastikan bahwa standar akunting yang digunakan telah sesuai dengan ketentuan dan standar akunting yang berlaku.

7. Apabila transaksi tersebut dilakukan dalam rangka lindung nilai, Bank harus menerapkan tanggung jawab yang jelas dan pengendalian intern yang bertujuan untuk :
a. memastikan bahwa standar akunting yang digunakan tidak menimbulkan penyimpangan pada pengakuan pendapatan.
b. mengecek bahwa transaksi tersebut telah efektif dilaksanakan sesuai dengan instruksi atau rekomendasi komite aset dan kewajiban (ALCO) dan transaksi tersebut mengurangi eksposur sukubunga secara keseluruhan.
c. Menilai kembali secara berkala bahwa lindung nilai telah efektif khususnya dalam perhitnungan rasio lindung nilai dan perbandingan rasio tersebut dari waktu ke waktu
d. memastikan bahwa kontrak ytransaksi tersebut tetap dikelola hingga jatuh tempo dsn tidsk skan dialihkan ke posisi trading.
e. Mengecek bahwa persyaratan jontrak transaksi secara intern (internals Deals).
f. Menilai kembali kredibilitas pihak lawan (counteroarts) dan mencegah penempatan yang terkonsentrasi karena apabila terjadi devault maka strategi lindung nilai akan menjadi tidak efektif.
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KESIMPULAN

            Pengertian dari Risiko suku bunga adalah risiko yang timbul karena nilai relatif aktiva berbunga, seperti pinjaman atau obligasi, akan memburuk karena peningkatan suku bunga. Secara umum, jika suku bunga meningkat, harga obligasi berbunga tetap akan turun, demikian juga sebaliknya. Risiko suku bunga umumnya diukur dengan jangka waktu obligasi, teknik paling tua yang sekarang digunakan untuk mengelola risiko suku bunga.

Tambahan dan peningkatan sumber risiko suku bunga yang penting, timbul dari opsi (option) yang diikatkan (embedded) pada banyak portofolio asset, liability dan OBS bank. Formalnya, sebuah opsi menyediakan kepada pemegang opsi, hak namun bukan kewajiban, untuk membeli (buy), menjual (sell) atau dengan cara yang sama memilih cash flow dari suatu instrument atau financial contract. Opsi dapat berupa instrumen yang berdiri sendiri (‘stand alone ‘) seperti ‘exchange traded option’ (opsi perdagangan/jual beli valuta) dan over the counter (OTC) contract, atau dapat juga diikaitkan dalam instrument-instrumen standar. Sementara bank bank menggunakan exchange traded dan opsi OTC baik dalam rekening perdagangan maupun dalam rekening non perdagangan, instrumen-instrumen yang terikat opsi yang umumnya lebih penting dalam kegiatan non-trading. Contoh dari instrument yang terikat opsi meliputi berbagai tipe obligasi dan notes (surat utang) dengan ‘call’ atau ‘put’ provision, pinjaman dengan memberi hak kepada peminjam untuk menyelesaikan hutangnya lebih cepat, dan berbagai tipe non maturity deposit instruments yang memberi hak kepada depositor untuk menarik dananya setiap waktu, sering tanpa sesuatu penalty atau denda. Apabila tidak dikelola dengan baik, maka pembayaran instruments yang mempunyai karakteristik yang tidak saling menopang (asymmetrical payoff) dengan syarat opsi dapat memberikan risiko yang signifikan khususnya kepada mereka yang menjual, karena opsi yang dipegang, secara explicit dan mengikat, umumnya dilaksanakan sepanjang menguntungkan bagi pemegang hak opsi dan tidak menguntungkan bagi penjual. Lebih lanjut suatu daftar yang semakin panjang dari hak opsi dapat mempengaruhi leverage (perputaran) dan dapat memperbesar pengaruh (baik posistif maupun negatif) dari posisi opsi pada kondisi keuangan perusahaan.

 

SUMBER:

  1.  http://id.shvoong.com/books/1904110-macam-macam-risiko/#ixzz1c5FTW37g
  2. http://hightek-bet.blogspot.com
  3. Sumber : id.wikipedia.org/wiki/Suku_bunga
  4. kompas
  5. Bappenas Blog

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

RISIKO VALAS

RESIKO VALAS

Valuta asing atau biasa disebut juga dengan kata lain seperti valas, Foreign Exchange, forex atau juga fx adalah mata uang yang di keluarkan sebagai alat pembayaran yang sah di negara lain pasar valuta asing sendiri mengalami pertumbuhan yang pesat pada awal decade 70’an. Valuta Asing yang biasa disingkat Valas atau dalam bahasa inggris dikenal sebagai forex ( singkatan dari Foreign Exchange ), yang berarti pertukaran uang dari nilai mata uang yang berbeda pasar valuta asing ini menyediakan pasar sarana fisik maupun dalam pasar kelembagaan untuk melakukan perdagangan mata uang asing, menentukan nilai tukar mata uang asing, dan menerapkan managemen mata uang asing.

Adapun yang menyebabkan pasar valuta asing bertumbuh dengan pesat antara lain adalah:

1. Pergerakan nilai valuta asing yang mengalami pergerakan cukup signifikan sehingga menarik bagi beberapa kalangan tertentu untuk berkecimpung di dalam pasar valuta asing.

2. Bisnis yang semakin mengglobal. Dengan semakin sengitnya persaingan bisnis membuat perusahaan harus mencari sumber daya baru yang lebih murah, dan tersebar di seluruh dunia sehingga menimbulkan permintaan akan mata uang suatu negara tertentu.

3. Perkembangan telekomunikasi yang begitu cepat dengan adanya sarana telepon, telex, faximile, internet maka memudahkan para pelaku pasar untuk berkomunikasi sehingga transaksi lebih mudah di lakukan.

4. Keuntungan yang di peroleh di pasar valuta yang cenderung besar meningkatakan

keinginan berbagai pihak berusaha memperoleh gain dari pergerakan valuta asing.

 

 

Para pelaku Pasar Valas

  1. A.    Dealer

Dealer pada umumnya disebut juga sebagai market maker yang berfungsi sebagai pihak yang membuat pasar bergairah di pasar uang. Dealer umumnya mengkhususkan pada mata uang tertentu dan menetapkan tingkat persediaan tertentu pada mata uang tersebut. Biasanya yang bertindak sebagai dealer adalah pihak bank, meskipun ada juga beberapa yang nonbank. Mereka mendapatkan keuntungan dari selisih harga jual dan harga beli valuta asing.

 

  1. B.     B. Perusahaan atau Perorangan

Perusahaan maupun individu dapat pula melakukan transaksi perdagangan valuta asing (valas). Pasar valuta asing dimanfaatkan untuk memperlancar transaksi bisnis. Yang termasuk dalam kelompok ini adalah eksportir, importir, investor internasional, perusahaan multinasional dan lain-lainnya.

 

  1. C.    C. Spekulan dan Arbitrator

Spekulan dan arbitrator bertindak atas kehendak mereka sendiri dan mereka tidak memiliki kewajiban untuk melayani konsumen serta tidak menjamin kelangsungan pasar, berbeda dari dealer. Spekulan juga pelaku pasar yang akan meramaikan transaksi di pasar uang. Para spekulan dapat keuntungan dari perubahan atau fluktuasi harga umum (capital gain ). Sementara itu, arbitrator memperoleh keuntungan dengan memanfaatkan perbedaan harga di berbagai pasar.

 

D. Bank Sentral

Fungsi Bank Sentral dalam pasar valuta asing umumnya adalah sebagai stabilitator nilai tukar mata uang lokal. Bank Sentral memanfaatkan pasar valuta asing untuk mendapatkan atau membelanjakan cadangan valuta asingnya agar dapat mempengaruhi stabilitas nilai tukar mata uang sehingga berdampak positif bagi perekonomian nasional negara.

 

E. Pialang

Pialang bertindak sebagai perantara yang mempertemukan penawaran dan permintaan terhadap mata uang tertentu. Agar dapat melaksanakan tugasnya dengan baik, perusahaan pialang memiliki akses langsung dengan dealer dan bank di seluruh dunia.

Fungsi Pasar Uang :

• Merupakan sarana alternatif khususnya bagi lembaga-lembaga keuangan, perusahaan- perusahaan non keuangan dan peserta-peserta lainnya baik dalam memenuhi kebutuhan dana jangka pendeknya maupun dalam rangka penempatan dana atas kelebihan likuiditasnya.

 

• Melakukan transfer mata uang sebuah negara dengan negara lain, agar bisa dipergunakan

di negara tersebut ( mentransfer daya beli antar negara )

 

• Mendapatkan atau menyediakan kredit untuk membiayai transaksi perdagangan

internasional

 

• Sebagai sarana untuk memperkecil resiko karena perubahan kurs.

 

Mata Uang Dunia Yang Biasanya di Perdagangkan

Ada tujuh mata uang dunia yang biasanya di perdagangkan oleh tujuh mata uang dunia tersebut adalah :
1. Dolar Amerika / USD
2. Poundsterling Inggris / GBP
3. Euro Dolar / EUR
4. Swiss Franc / CHF5. Japanese Yen / JPY
6. Australian Dolar / AUD
7. Canadian Dolar / CAD

 

Jenis – Jenis Risiko Investasi :

Risiko yang mungkin dihadapi dalam kegiatan investasi di pasar uang antara lain :

1. Risiko pasar (Market Risk), Risiko yang berkaitan dengan kenaikan tingkat bunga,

mengakibatkan investor mengalami capital loss.

2. Risiko Reinvestment, Risiko yang berkaitan dengan turunnya harga sekuritas.

3. Risiko Gagal Bayar, Risiko yang terjadi akibat tidak mampunya peminjam (debitur)

memenuhi kewajibannya sesuai dengan yang diperjanjikan.

4. Risiko Inflasi, Pemberi pinjaman menghadapi kemungkinan naiknya hargaharga barang

dan jasa yang menurunkan daya beli atas pendapatan yang diterimanya.

5. Risiko Valuta (Currency risk), Risiko yang terjadi karena perubahan yang tidak

menguntungkan terhadap kurs mata uang asing.

6. Risiko Politik, Risiko yang berkaitan dengan perubahan undang-undang atau peraturan

pemerintah.

 

Instrumen Pasar Uang

1. Treasury Bills (T-Bills)

Instrumen utang yang diterbitkan oleh Pemerintah dan Bank Sentral dengan jumlah

tertentu yang akan dibayarkan kepada pemegang pada tanggal yang telah ditetapkan.

 

2. Commercial Paper (CP)

Commercial Paper adalah surat berharga yang dikeluarkan oleh perusahaan swasta/BUMN. CP adalah surat janji untuk membayar kembali jumlah hutang yang diterima pada suatu tanggal tertentu. Bunga CP juga didapatkan dengan menggunakan diskonto Berbeda dengan Bank Acceptance atauipun Sertifikat Deposito, pelunasan CP tidak dijamin oleh bank maupun suatu hak kebendaan (Unsecured Promisory Notes).

 

3. Sertifikat Deposito (CD). 

Sertifikat deposito adalah surat berharga yang dikeluarkan oleh Bank. Sebagaimana Bank Acceptance, bunga sekuritas didapatkan dengan menggunakan diskonto. CD biasa diperdagangkan sebelum jatuh tempo untuk mendapatkan nilai tunainya.

 

4. Bank Acceptance (BA) / Wesel Tagih

Bank Accetance adalah surat berharga yang timbul karena suatu pihak memiliki tagihan kepada pihak lain. Oleh karena pihak yang memiliki uang tersebut memerlukan dana dalam waktu singkat maka tagihan tersebut dapat dijual dengan mendapatkan jaminan pembayaran dari bank. Biasanya terdapat pada transaksi ekspor/impor yang dilakukan dengan sarana letter of credit (L/C).

 

5. Bill of Exchange

Bill of Exchange atau wesel adalah suatu perintah tertulis tak bersyarat yang ditujukan oelh seseorang kepada pihak lainnya untuk membayar sejumlah uang tertentu pada saat diperlihatkan atau pada tanggal tertentu kepada penari atau pembawa.

 

6. Sertifikat Bank Indonesia (SBI)

Sertifikat Bank Indonesia adalah surat berharga yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia. SBI diterbitkan oleh BI lebih ditujukan sebagai alat kebijakan moneter dimana tingkat suku bunganya ditentukan berdasarkan lelang yang dilakukan di Bank Indonesia. Jangka waktu SBI adalah 1,3,6 bulan dan 1 tahun.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Manajemen Risiko Valas

Untuk dapat mengurangi risiko valas, maka salah satu strategi yang dapat dipergunakan adalah dengan cara mengatasiexposure yang disebabkan oleh mata uang asing, maka dapat dilakukan“Hedging”.Hedging adalah suatu aktivitas lindung nilai dalam rangka mengantisipasi pergerakan mata uang asing.

Manfaat dari hedging yaitu melindungi asset perusahaan dari potensi kerugian valas, serta mengurangi variasi dari arus kas di masa depan. Perusahaan memperoleh suatu kepastian melalui hedging. Teknik-teknikhedging yang pada umumnya digunakan untuk mengatasi transaction exposure antara lain adalah:

 

A.Forward Hedge

Cara yang paling sederhana dalam menghilangkan transaction exposure adalah dengan melakukan forward hedge. Forward hedge memungkinkan perusahaan untuk mematok nilai valas untuk masa depan, yang sudah ditentukan sejak hari ini. Misalnya, sebuah perusahaan AS mengekspor ke Eropa, dan akan menerima pembayaran sebesar €50,000 dalam 90 hari ke depan. Spot Rate saat ini adalah $1.3950/€, sementara 3 month forward rate adalah $1.3840/€. Dengan melakukan forward hedge, maka dalam 3 bulan  mendatang perusahaan AS akan menerima €50,000 dan menukarkannya padarate  $1.3840/€, dan menerima $62,900. Meskipun lebih kecil dari perkiraan $69,750 tanpa hedging, namun dengan melakukan forward hedge berarti mengeliminasi transaction exposure. Tanpa melakukan hedging, maka perusahaan terekspos oleh risiko pergerakan mata uang asing, bisa mendapatkan keuntungan ataupun kerugian. Keunggulan menggunakan forward hedge yakni seandainya rate forward memprediksi spot rate di masa depan dengan tepat, maka real cost of hedging adalah nol.

 

            Kekurangan dari forward hedge antara lain adalah bisnis kecil kadang tidak dapat mengaksesnya, karena bank terekspos risiko bahwa perusahaan tidak memenuhi kontrak forward hedge tersebut. Perusahaan yangcr editwor thines s nya kurang baik juga bisa ditolak oleh bank. Sehingga, salah satu opsi lainnya yakni dengan melakukan futures hedge.

 

B.Futures Hedge

Konsep dalamforward dan futures hedge pada dasarnya sama, yang berbeda adalah mekanismenya. Jika forward makacounterparty adalah bank, maka dalam futures mekanismenya adalah menggunakan. Kelemahan dari metode ini adalah penggunaan

marked to market, sehingga dalam pergerakan harian bisa tercipta mendapatkan

keuntungan ataupun kerugian, dan jika margin tidak cukup kuat, maka bisa terkenacall

margin.

 

C. Money Market Hedge

Hedging di pasar uang yakni aktivitas lindung nilai untuk utang maupun piutang di masa depan, dengan cara mengambil posisi di pasar uang. Money market hedge meliputi aktivitas meminjam dan berinvestasi dengan mata uang yang berbeda. Misalnya, jika sebuah perusahaan punya piutang sebanyak $100,000, maka terekspos risiko jika nantinya Dollar melemah terhadap Rupiah. Untuk mengeliminasi risiko tersebut, maka perusahaan bisa mengambil pinjaman dalam Dollar, menukarnya ke Rupiah, kemudian berinvestasi pada pasar uang. Selanjutnya hasil pembayaran piutang tersebut akan digunakan untuk melunasi pinjaman.

 

 

D. Currency Option Hedge

Hedging menggunakan option yakni dengan menggunakan hak beli atau hak jual

sejumlah mata uang asing pada tingkat harga tertentu untuk melakukan lindung nilai.

Hedging options memungkinkan perusahaan untuk melindungi risiko pergerakan mata

uang asing yang tidak diharapkan, juga memungkinkan perusahaan untuk menanggung

untung.

 

STRATEGI MENGURANGI RISIKO VALAS

Ketatnya likuidasi dan mengurangnya mata uang dolar terhadap sebagian besar mata uang di dunia berdampak pada kelemahan ekonomi global. Berbagai Negara di dunia termasuk Indonesia berusaha memproteksi ekonomi negrinya dengan mengeluarkan kebijakan yang mendorong ekspor.

Kepada industry kecil dan menengah yang berorientasi ekspor, pemerintah Idonesia me,berikan sejumlah intensif menarik. Misalnya, insentif fiscal berupa bea masuk ditanggung pemerintah terhadap 11 sektor industry, diantaranya, industry jasa pelayanan kendaraan bermotor, pengolahan susu, dan komponen elektronik. Upaya mengurangi ekonomi biaya tinggi ditempuh pemerintah dengan menurunkan biaya dan mempersingkat waktu transaksi bisnis melalui transaksi satu pintu dan penurunan biaya Terminal Handling Cost di pelabuhan. Bank Indonesia juga turut mendukung eksportir dengan mengeluarkan peraturan pembelian wesel eksport berjangka.

Pemerintah berusaha mendorong industry kecil untuk menembus pasar alternative seperti Timur Tengah, Cina,dan India. Alasanya, GDP tinggi, pertumbuhan ekonomi mesih relative tinggi, lokasi dekat dan memiliki hubungan baik dengan RI. Sementara produk yang masih berpotensi ekspor antara lain, produk makanan minuman, komoditas perhiasan, barang dari kulit, elektronika, mobil dan komponennya, serta garmen dan tekstil.

Meski mendapat dukungan dari pemerinntah, industry kecil tetap harus pandai mencari strategi terutama terkait dengan resiko valas. Untuk itu ada tiga hal penting yang tidak boleh ditinggalkan:

Pertama, sangat penting bagi eksportir untuk mengena mitra dagang dan Negara tujuan

ekspor dengan baik sehingga dapat menemukan cara untukmemotong biaya

Kedua, cermati dan hitung komponen bisnis yang memiliki risiko terpengaruhi oleh

perbedaan nilai valas, yaitu segala transaksi yang menggunakan mata uang asing. Ketiga, upayakan “natural hedging” yakni pengeluaran dan pembelian dalam mata uang yang sama. Namun, jika tidak biasa, gunakan fasilitas linding nilaai valas dari bank yang dipercaya

Sumber majalahSWA hal 53

 

KESIMPULAN :

Sebelum melakukan ekspor yang harus diperhatikan adalah pengenaan pajak di Negara tujuan ekspor, karena dengan kita mengetahui besarnya tariff pajak yang dikeluarkan di Negara tujuan sehingga kita dapat mengasosiasi harga. Selain itu, perusahaan juga harus bisa meminimalisasi dampak resiko kurs, diantaranya:

Mengurangi jumlah transaksi yang dilakukan perusahaan dalam rangka mengurangi risiko kurs. Penyesuaian harga dapat dilakukan dengan cara menaikan atau menurunkan harga jual untuk menutup perbedaan. Dan perusahaan dapt merubah mata uang yang digunakan dalam penjualan.

(Vibizmanagement – Risk Management) – Jika suatu bisnis masuk ke dalam perdagangan internasional, maka tentunya mereka terekspos terhadap risiko valuta asing. Risiko ini terdiri dari beberapa macam, dan masing-masing punya strategi tersendiri untuk mengelolanya.

Pada umumnya, Terdapat tiga jenis exposure valuta asing, diantaranya: 1) transaction exposure;

2) operating exposure; dan 3) translation exposure.

Untuk mengatasi exposure yang disebabkan oleh mata uang asing, maka bisa dilakukan hedging. Hedging adalah suatu aktivitas lindung nilai dalam rangka mengantisipasi pergerakan mata uang asing. Manfaat dari hedging antara lain melindungi dari potensi kerugian valas, serta mengurangi variasi dari arus kas di masa depan. Perusahaan memperoleh suatu kepastian melalui hedging.

Menurut Eitman, beberapa aktivitas yang dapat mengakibatkan suatu transaction

exposure diantaranya adalah:
1. Membeli/menjual dalam kredit dengan harga dalam valas
2. meminjam/ memberi pinjaman, dengan sistem pelunasan menggunakan valas
3. masuk ke dalam kontrak forward valas
4. memperoleh asset atau liabilities dalam valas

Seperti yang telah diungkapkan diatas, ketika perusahaan menghadapi transaction exposure, ia mempunyai dua opsi, yakni hedging atau tidak. Seandainya perusahaan tidak mau melakukan hedging, maka opsi yang dimilikinya untuk meminimalisir risiko valas adalah:

1. mentransfer risiko tersebut terhadap pihak lain. Misalnya, perusahaan Indonesia mengenakan harga jual produk ekspornya ke AS dalam Rupiah, bukannya Dollar. Sehingga, pihak lawan (importir AS) yang terekspos terhadap pergerakan mata uang Rupiah.

2. meminta pelunasan cepat. Risiko mata uang asing dapat diminimalisir jika perusahaan meminta pelunasan secepatnya, sehingga bisa menggunakan nilai mata uang spot.

3. melakukan netting. Ini biasanya dilakukan oleh perusahaan MNC yang punya banyak cabang dan melakukan banyak transaksi valas. Yang dilakukan adalah mengkonsolidasikan seluruh posisi mata uang asing dalam satu negara, dan dihitung net-nya dari transaksi-transaksi yang terjadi dengan pihak lain.

Demikian jika perusahaan memilih untuk tidak melakukan hedging. Bagaimana langkah-langkah yang dilakukan jika perusahaan memutuskan untuk mengambil posisi hedging?

(Vibizmanagement – Risk) – Teknik-teknik hedging yang pada umumnya digunakan

untuk mengatasi transaction exposure antara lain adalah:

Forward hedge

Cara yang paling sederhana dalam menghilangkan transaction exposure adalah dengan melakukan forward hedge. Forward hedge memungkinkan perusahaan untuk mematok nilai valas untuk masa depan, yang sudah ditentukan sejak hari ini. Kontrak forward pada umumnya dilakukan dengan pihak bank sebagai counterparty.

Misalnya, sebuah perusahaan AS mengekspor ke Eropa, dan akan menerima pembayaran sebesar €50,000 dalam 90 hari ke depan. Spot rate saat ini adalah $1.3950/€, sementara 3-month forward rate adalah $1.3840/€. Dengan melakukan forward hedge, maka dalam 3 bulan mendatang perusahaan AS akan menerima €50,000 dan menukarkannya pada rate $1.3840/€, dan menerima $62,900.

Meskipun lebih kecil dari perkiraan $69,750 tanpa hedging, namun dengan melakukan forward hedge berarti mengeliminasi transaction exposure. Tanpa melakukan hedging, maka perusahaan terekspos oleh risiko pergerakan mata uang asing, bisa gain ataupun loss.

Keunggulan menggunakan forward yakni seandainya rate forward memprediksi

spot rate di masa depan dengan tepat, maka real cost of hedging adalah nol.

Kekurangan dari forward hedge antara lain adalah bisnis kecil kadang tidak dapat mengaksesnya, karena bank terekspos risiko bahwa perusahaan tidak memenuhi kontrak forward tersebut. Perusahaan yang creditworthinessnya kurang baik juga bisa ditolak oleh bank. Sehingga, salah satu opsi lainnya yakni dengan melakukan futures hedge.

Futures hedge

 

Konsep dalam forward dan futures hedge pada dasarnya sama, yang berbeda adalah mekanismenya. Jika forward maka counterparty adalah bank, maka dalam futures mekanismenya adalah menggunakan kelemahan dari metode ini adalah penggunaan marked to market, sehingga dalam pergerakan harian bisa tercipta gain ataupun loss, dan jika margin tidak cukup kuat, maka bisa terkena call margin.

Money market hedge

Hedging di pasar uang yakni aktivitas lindung nilai untuk utang maupun piutang di

masa depan, dengan cara mengambil posisi di pasar uang. Money market hedge meliputi aktivitas meminjam dan berinvestasi dengan mata uang yang berbeda.

Misalnya, jika sebuah perusahaan punya piutang sebanyak $100,000, maka terekspos risiko jika nantinya Dollar melemah terhadap Rupiah. Untuk mengeliminasi risiko tersebut, maka perusahaan bisa mengambil pinjaman dalam Dollar, menukarnya ke Rupiah, kemudian berinvestasi pada pasar uang. Selanjutnya hasil pembayaran piutang tersebut akan digunakan untuk melunasi pinjaman.

Currency option hedge

Hedging menggunakan option yakni dengan menggunakan hak beli atau hak jual sejumlah mata uang asing pada tingkat harga tertentu untuk melakukan lindung nilai. Hedging options memungkinkan perusahaan untuk melindungi risiko pergerakan mata uang asing yang tidak diharapkan, juga memungkinkan perusahaan untuk menangguk untung.

Berikut ini adalah ringkasan dari strategi hedging transaction exposure.

 

 

 

 

 

SUMBER :

http://www.scribd.com/doc/31592442/Strategi-Mengurangi-Risiko-Valas

www.scribd.com/doc/31592407/RISIKO-VALUTA-ASING

www.lintasberita.com/Dunia/…/strategi-mengelola-risiko-valas

http://www.jpnn.com/read/2011/08/26/101654/Waspadai-Risiko-Valas-

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: