PEREKONOMIAN INDONESIA

 

Penduduk dan Ketenagakerjaan

            Penduduk berfungsi ganda dalam perekonomian. Dalam konteks pasar ia berada baik di sisi permintaan maupun di sisi penawaran. Di sisi permintaan, penduduk adalah konsumen, sumber permintaan akan barang-barang dan jasa. Di sisi penawaran, penduduk adalah produsen, jika ia pengusaha atau pedagang; atau tenaga kerja, jika ia semata-mata pekerja. Dalam konteks pembangunan, pandangan terhadap penduduk terpecah dua, ada yang menganggapnya sebagai penghambat pembangunan, ada pula yang menganngapnya sebagai pemacu pembangunan.

Dalam literatur-literatur kuno, pada umumnya penduduk dipandang sebagai penghambat pembangunan. Keberadaanya, apalagi dalm jumlah besar dan dengan pertumbuhan yang tinggi, dinilai hanya menambah beban pembangunan. Dinyatakan dengan kalimat yang lebih lugas: jumlah penduduk yang besar memperkecil pendapatan per kapita dan menimbulkan masalh ketenagakerjaan.

Konsep dan Definisi

Tenaga kerja (manpower) dipilih pula ke dalam dua kelompok yaitu angkatan kerja (labor force) dan bukan angkatan kerja. Yang termasuk angkatan kerja ialah tenaga kerja atau penduduk dalam usia kerja yang bekerja, atau mempunyai pekerjaan namun untuk sementara sedang tidak bekerja, dan yang mencari pekerjaan. Sedangkan yang termasuk bukan angkatan kerja ( bukan termasuk angkatan kerja) ialah tenaga kerja atau penduduk dalam usia kerja yang tidak bekerja, tidak mempunyai pekerjaan dan sedang tidak mencari pekerjaan; yakni orang-orang yang kegiatannya bersekolah (pelajar, mahasiswa), mengurus rumah tangga (maksudnya ibu-ibu yang bukan wanita karir), serta menerima pendapatan tapi bukan merupakan imbalan langsung atas jasa kerjanya (pensiunan, penderita cacat yang dependen).

Selanjutnya, angkatan kerja dibedakan pula menjadi dua subkelompok yaitu pekerja dan penganggur. Yang dimaksud dengan pekerja ialah orang-orang yang mempunyai pekerjaan, mencakup orang yang mempunyai pekerjaan dan (saat disensus atau disurvai) memang sedang bekerja, serta orang yang mempunyai pekerjaan namun untuk sementara waktu kebetulan sedang tidak bekerja. Yang terakhir ini misalnya petani yang sedang menanti panen atau wanita karir yang tengah menjalani cuti melahirkan. Biro Pusat Statistik mendefinisikan bekerja adalah melakukan pekerjaan dengan maksud memperoleh upah atau membantu memperoleh pendapatan atau keuntungan dan lamanya bekerja paling sedikit satu jam secara kontinyu dalam seminggu yang lalu (maksudnya seminggu sebelum – penulis). Termasuk dalam batasan ini pekerja keluarga tanpa upah yang membantu dalam suatu usaha/ kegiatan ekonomi. Adapun yang dimaksud dengan penganggur ialah orang yang tidak mempunyai pekerjaan, lengkapnya orang yang tidak bekerja dan (masih atau sedang) mencari pekerjaan. Penganggur semacam ini oleh BPS dinyatakan sebagai penganggur terbuka.

Tenaga Kerja yang bukan angkatan kerja dibedakan menjadi tiga subkelompok yaitu penduduk dalam usia kerja yang sedang bersekolah; mengurus rumah tangga (tanpa mendapatkan upah); serta penerima pendapatan lain. Batasan BPS mengenai besekolah ialah bersekolah formal dari jenjang pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi, termasuk pelajardan mahasiswa yang sedang libur. Dengan demikian, dalam konteks ketenagakerjaan, penduduk dipilah-pilah sebagai berikut :

Penduduk : A. TENAGA KERJA – MANPOWER ( berusia ≥ 10 tahun )

  1. Angkatan Kerja – Labour Force
    1. Pekerja
    2. Penganggur
  2. Bukan Angkatan Kerja
    1. Pelajar dan mahasiswa
    2. Pengurus rumah tangga
    3. Penerima pendapatan lain

B. BUKAN TENAGA KERJA ( berusia < 10 tahun)

Konsep pemilah-pemilah penduduk seperti di atas disebut pendekatan angkatan kerja (labour force approach), diperkenalkan oleh International Labour Organization (ILO). Banyak negara berkembang menerapkan pendekatan ini. Biro Pusat Statistik juga menerapkannya untuk memetakan dan menganalisis ketenagakerjaan di tanah air. Alternatif bagi pendekatan ini ialah pendekatan pemanfaatan tenaga kerja.

PEKERJA DAN TINGKAT UPAH

            Sebaran pekerjaan angkatan kerja dapat ditinjau dari tiga aspek, yaitu berdasarkan (1) lapangan pekerja, (2) status pekerjaan; dan (3) jenis pekerjaan. Sebaran angkatan kerja berdasarkan lapangan pekerjaan menggambarkan di sektor-sektor produksi apa/ mana saja para pekerja menyandarkan sumber nafkahnya. Sebaran menurut status pekerjaan menjelaskan kedudukan pekerja di dalam pekerjaan yang dimiliki atau dilakukannya. Adapun sebaran menurut jenis pekerjaan menunjukkan kegiatan konkret apa yang dikerjakan oleh pekerja yang bersangkutan.

PERDAGANGAN DAN PEMBAYARAN INTERNASIONAL

Konsep Dan Unsur-Unsur Neraca Pembayaran

            Suatu neraca pembayaran internasional terdiri atas beberapa unsur berupa neraca-neraca parsial yang cakupannya lebih spesifik atau terbatas. Unsur-unsur dimaksud adalah neraca perdagangan (trade balance); transaksi berjalan (current account); neraca modal ( capital account), serta tiga ayat yang bukan berupa neraca yaitu SDR, selisih perhitungan, dan cadangan devisa.

GATT 1994 DAN KESIAPAN INDONESIA

Ada 3 prinsip penting yang diterapkan dan harus dipatuhi oleh negara-negara penanda-tangan GATT 1994:

  1. Prinsip perlakuan yang sama dan nondiskriminasi (unconditional most favoured nations and non-discrimination principle). Pronsip ini menharuskan setiap negara untuk memberikan perlakuan yang sama terhadap semua negara mitra dagangnya, tidak boleh ada mitra dagang yang mendapat perlakuan khusus atau istimewa.
  2. Prinsip pembalasan (retaliation principle). Prinsip ini memungkinkan dikenakannya sanksi terhadap negara yang melanggar prinsip pertama.
  3. Prinsip perlakuan nasional (national treatment principle). Dengan prinsip ini suatu negara tidak boleh melakukan hal-hal yang dapat mendorong peningkatan proteksi melampaui konsesi-konsesi yang telah diberikan. Segala ketentuan GATT 1994 sudah harus tuntas diterapkan paling lambat tahun 2010 oleh negara maju dan tahun 2020 oleh negara berkembang.

GATT 1994 berisi kesepakatan di dalam bidang atau hal-hal:

  1. Tarif.
  2. Nontarif.
  3. Produk-produk Tropis.
  4. Produk –produk Berbasis Sumberdaya Alam.
  5. Tekstil dan Pakaian Jadi.
  6. Produk-produk Pertanian.
  7. Tindakan Pengamanan ( Safeguards).
  8. Persetujuan dan Pengaturan MTN.
  9. Trade Related Intellectual Proferty Rights ( TRIPS).
  10. Trsade Related Investment Measures (TRIMS).
  11. Perdagangan Jasa.

Indonesia tak pelak lagi harus menyesuaikan diri dengan tata perdagangan internasional baru pasca-GATT 1994. Kita setuju dan turut menandatangani tentulah karena pertimbangan manfaat-manfaat yang dapat diperoleh melalui kesepakatan tersebut. Sebagai negara berkembang, dalam Putaran Uruguay atau GATT 1994 Indonesia menikmati perlakuan yang sedikit khusus dan diferensial, yakni berupa (1) kewajiban yang lebih terbatas dibanding negara-negara industri; dan (2) masa tenggang yang lebih panjang untuk mengimplementasikan komitmen yang disepakati. Beberapa unsur penting komitmen Indonesia dalam GATT 1994 meliputi:

  1. Tarifikasi hambatan-hambatan nontarif di sektor pertanian.
  2. Pengikatan 94,6% dari seluruh posisi tarif. Untuk komoditas pertanian, 300 macam tarif diikat pada tingkat >40%, 1014 macam tarif diikat pada tingkat 40%, dan 27 macam tarif diikat pada tingkat <40%. Untuk komoditas industri, Indonesia setuju untuk mengikat 6848 macam tarif pada tingkat 40% dan 688 macam tarif pada tingkat yang lebih rendah.
  3. Di sektor industri akan dihapus hambatan-hambatan nontarif di 98 posisi, juga akan dihapus bea masuk tambahan (surcharge) di 172 posisi tarif dalam masa sepuluh tahun.
  4. Penurunan tarif hasil-hasil pertanian di sejumlah posisi.
  5. Komitmen dalam bidang perdagangan jasa mencakup jasa bisnis; telekomunikasi; kesehatan; transportasi; dan pariwisata.
  6. Penghapusan syarat kandungan lokal dalam hal investasi.
  7. Partsispasi aktif dalam persetujuan hak-hak milik intelektual.

NERACA MODAL DAN CADANGAN DEVISA

Bagian dan pos berikutnya yang penting di dalam suatu neraca pembayaran internasional adalah neraca modal (lalu lintas modal) dan cadangan devisa. Berbeda dengan neraca perdagangan dan neraca jasa, neraca modal bukan merupakan catatan atau hasil kegiatan perdagangan luar negeri dalam arti sempit, tapi lebih mencerminkan hubungan ekonomi luar negeri dalam arti luas. Adapun cadangan devisa mencerminkan hasil neto pembayaran internasional, ketersediaannya mempengaruhi kemampuan impor.

Lalu Lintas Modal

Neraca modal menggambarkan arus keluar masuknya devisa yang bukan merupakn atas barang atau jasa tertentu. Arus devisa yang dicatat di neraca modal ialah devisa dalam arti modal, baik berupa dana investasi maupun pinjaman atau utang luar negeri. Cadangan Devisa suatu negara biasanya dinyatakan aman apabila mencukupi kebutuhan impor untik jangka waktu setidak-tidaknya tiga bulan. Jika cadangan devisa yang dimiliki tidak mencukupi kebutuhan untuk tiga bulan impor, maka hal itu dianggap rawan.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: